Inilah 13 Penyebab Banjir, di Manakah Anda Berperan

Banjir, kini merupakan bencana yang banyak terjadi di Indonesia, terutama pada musim hujan. Dari berbagai penyebab, ternyata sebagian besar adalah berkat campur tangan manusia. Jadi, hujan memang bukan satu-satunya penyebab bencana tersebut terjadi.

No

Penyebab

Faktor Alam

Faktor Manusia

1

Perubahan land use (tata guna
lahan)

 

2

Pembuangan Sampah

 

3

Erosi dan sedimentasi

√√

4

Kawasan kumuh di sepanjang sungai /
drainase

 

5

Perencanaan sistem pengendalian
banjir yang tidak tepat

 

6

Curah hujan

 

7

Pengaruh fisik sungai

√√

8

Kapasitas sungai / drainase yang
tidak memadai

√√

9

Pengaruh pasang air laut (rob)

 

10

Penurunan tanah

11

Drainase lahan

12

Bendung dan bangunan air

 

13

Kerusakan bangunan pengendali banjir

 

 

 

 

 



Keterangan: tanda √ menunjukkan penyebab banjir, tanda √√ menunjukkan
penyebab dominan.



Sumber : Robert J Kodoatie dan Roestam Sjarief (2006)

 

 

Posted in Banjir | Tagged , , , , , | 1 Komentar

Gempa Bali dan Ancaman Gempa Besar

PULAU Bali, Kamis 13 Oktober 2011 kemarin diguncang gempa berkekuatan 6,8 skala Richter dengan intensitas 4 MMI. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 10.16 WIB dengan pusat gempa di 143 kilometer barat daya Nusa Dua pada kedalaman 10 km.

Walaupun korban yang ditimbulkan tidak sehebat peristiwa gempa Yogyakarta, Tsunami Pengandaran, dan Tsunami Aceh, namun peristiwa tersebut tetap patut diwaspadai. Hal itu karena Pulau Dewata ini, secara geologis memang sangat berisiko diguncang gempa-gempa besar.

Seperti diketahui, Bali, Nusatenggara, dan Jawa berada di sebelah utara dekat dengan pertemuan lempeng Indoaustralia dan Eurasia.

Pergerakan lempeng yang sama, juga pernah menyebabkan gempa di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah, 27 Mei 2006 lalu pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Menurut pemantauan United States Geological Survey (USGS), kekuatan gempa tersebut mencapai 6,2 pada skala Richter.

Pergerakan lempeng Eurasia dan Indoaustralia, juga pernah mengakibatkan gempa yang mengguncang Cilacap Jawa Tengah dan Pangandaran Jawa Barat, 17 Juli 2006 lalu pukul 15.19 Wib berkekuatan 6,8 Skala Richter. Episentrum gempa berada pada kedalaman kurang dari 30 km di titik 9,4 Lintang Selatan, dan 107,2 Bujur Timur. Pusat gempa tepatnya berada di sebelah selatan Pameungpeuk dengan jarak sekitar 150 km, dan merupakan zona pertemuan dua lempeng benua Indoaustralia dan Eurasia.

Gelombang tsunami akibat gempa tersebut menerjang pantai selatan Jawa Barat, seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Pangandaran Kabupaten Ciamis, pantai selatan Cianjur, Sukabumi,  Cilacap, Kebumen, dan pantai selatan Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Ratusan jiwa tewas akibat terjangan tsunami, ribuan orang cedera, dan puluhan jiwa hilang.

Bencana geologi di Indonesia yang paling besar abad ini, adalah gempa dan megatsunami di Samudra Indonesia sebelah barat Sumatera, 26 Desember 2004. Tercatat sekitar 230 ribu jiwa di 14 negara tewas akibat gelombang yang menghancurkan pelabuhan ini.  Sementara jumlah sesungguhnya, bisa lebih besar dari angka tersebut.

Negara-negara yang menerima dampak buruk dari bencana ini, yakni Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagaskar.

Sumber-sumber resmi pemerintah di berbagai negara menyebut gempa yang memicu tsunami ini disebabkan pergerakan pertemuan lempeng Indoaustralia dan Eurasia. Namun sumber-sumber lain menyebutkan, tsunami tersebut dipicu oleh ledakan nuklir.

Dalam buku “111 Konspirasi Menghebohkan Dunia” (conspiracy theories) karya Jemie King (2010), muncul nama dua negara yang dicurigai meledakkan bom tersebut, yakni Amerika Serikat dan India.

Menurut teori dalam buku itu, Amerika Serikat dicurigai sengaja membuat tzunami di Indonesia, untuk menguasai minyak di Aceh. Kecurigaan itu muncul, karena segera setelah tsunami, 2 ribu marinir Amerika Serikat datang ke Aceh untuk menguasai sebagian wilayah itu.

Selain teori itu, ada pula yang meyakini bahwa bom nuklir tersebut bukan diledakkan oleh Amerika Serikat, melainkan India. Pada saat itu negeri Shahrukh Khan itu sedang melakukan percobaan peledakan nuklir di Samudra Hindia, tepatnya di daerah yang disebut The Five Belt. Tindakan India tersebut, semula dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan terhadap Pakistan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mungkinkan gempa-gempa dan tsunami lain di Indonesia juga merupakan buah kesengajaan. Atau paling tidak merupakan dampak tidak langsung dari gempa Aceh tahun 2004 lalu.

Biarlah waktu yang menjawab pertanyaan tersebut, karena di muka bumi ini sebenarnya tak ada satu rahasia pun yang benar-benar tersimpan. Mungkin teori-teori konspirasi seperti ini, suatu saat nanti akan terbuka, oleh upaya-upaya orang-orang seperti Julian Paul Assange, journalist dan bos dari WikiLeaks.

Namun demikian, apapun teori yang muncul, gempa dan tzunami tetap harus diwaspadai, terutama oleh penduduk di negara-negara yang wilayahnya terdapat pertemuan lempeng dan patahan bumi. ()

Posted in Gempa | Tagged , | Tinggalkan komentar

Demam Berdarah Dengue, Masih Mengancam

DEMAM berdarah dengue, masih mengancam penduduk di zona tropis dan subtropis, seperti Amerika Serikat bagian selatan dan Indonesia. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Kecuali penyakit ini, nyamuk itu dapat menyebarkan virus Chikungunya dan demam kuning.

Aedes aegypti dikenali dari tanda putih di kaki dan garis-garis putih tubuhnya. Hewan ini berasal di Afrika tapi sekarang ditemukan di berbagai daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Aedes aegypti adalah vektor utama demam berdarah, terutama di daerah tropis dan subtropis zona seperti Amerika Serikat bagian selatan dan Indonesia.

Telur nyamuk ini, seperti pada nyamuk rumah pada umumnya, diletakkan secara tunggal atau dalam rakit dan meskipun mereka mungkin menempel ke permukaan. Telur bisa tenggelam, jika air sangat mengganggu.

Aedes lebih menyukai air bersih dalam pot air, tanki di atap, di sisa-sisa air hujan, atau tempat minum burung untuk mengembangkan larva. Mereka juga menyebarkan telur di tempat-tempat seperti kolam atau ban bekas. Nyamuk jantan tidak menggigit. Perempuan mengambil makan darah untuk mendukung telurnya berkembang.

Obat Serangga

Para peneliti di American Chemical Society, telah menemukan formula minyak kayu manis untuk membunuh larva nyamuk. Senyawa ini merupakan pestisida yang berbau, namun ramah lingkungan dan efektif membunuh larva nyamuk.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam edisi 14 Juli Journal Kimia Pertanian dan Makanan, para peneliti berharap bahwa minyak kayu manis bisa menjadi pembasmi nyamuk yang baik, meskipun kasiat bahan kimia ini belum diuji pada nyamuk dewasa. (Science Daily, 16 Juli, 2004).

Formula ini dapat menggantikan pestisida konvensional. Pestisida alami sangat penting, karena selama ini pestisida konvensional menyebabkan pencemaran lingkungan dan memberikan dampak buruk pada kesehatan.

Pestisida kimia konvensional akan membunuh nyamuk dewasa saja, tetapi telur binatang itu masih hidup. Telur nyamuk harus dibunuh, sehingga tidak menetas dan menghasilkan nyamuk dewasa.

Untuk menghentikan siklus hidup nyamuk, kita harus menghancurkan telur makhluk itu.

Waduk air bersih, pot air, tangki di atap, sisa air hujan, atau tempat-tempat minum burung harus bersih setiap minggu.

Kolaborasi setiap orang untuk menghancurkan tempat nyamuk berkembang biak juga sangat penting.

Hanya membersihkan rumah itu tidak membantu, karena nyamuk akan bertelur mereka di tempat lain.

Di Indonesia, sejak beberapa tahun lalu telah menyebar metode 3M.

Metode 3M berarti membersihkan, menutup, dan mengubur. Namun, metode ini masih tidak efektif, karena orang tidak bersedia untuk mengambil bagian untuk tindakan ini. Mereka memilih untuk menggunakan pestisida gratis dari pemerintah.

Ketika Penyakit Menyerang

Ketika serangan demam berdarah, masyarakat harus menerima perawatan di rumah sakit.

Di Indonesia, biaya pengobatan penyakit ini selama tiga hari di rumah sakit mencapai Rp 2 juta. Bagi masyarakat miskin di negeri ini, biaya tersebut cukup mahal.

Sebuah keluarga dengan pendapatan Rp 900 ribu per bulan, akan sangat kesulitan membayar biaya rumah sakit ini. Beban tersebut masih ditambah, karena pasien masih harus menghadapi ancaman kematian akibat penyakit ini.

Biasanya, keluarga penderita akan melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan anggotanya. Mereka mencoba menggunakan berbagai cara untuk mempercepat kesembuhan, salah satunya dengan jus jambu biji.

Manfaat Jus Jambu

Setiap manusia normal, mestinya memiliki 150.000-450.000 trombosit.

Namun, tingkat trombosit pada pasien demam berdarah, bisa jatuh menjadi 130.000. Pembekuan darah juga tidak mudah terjadi, sehingga pasien mudah mengalami perdarahan dan berakibat fatal.

DBD juga bisa mengakibatkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Hal ini karena leukosit pasien demam berdarah juga cenderung menurun. Pada manusia normal, kadar leukosit harus 5.000-10.000. Jika tingkat kurang, maka bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Gejala-gejala lain dari demam berdarah, pasien dapat mengalami penurunan tingkat hemoglobin.

Dalam kondisi normal, kadar hemoglobin dalam darah harus 12:00 g / dl -16,00 g / dl.

Kekurangan tingkat hemoglobin dapat membahayakan pasien, karena darah akan mengalami kesulitan memasok jumlah yang cukup oksigen ke otak.

Selain meningkatkan kadar trombosit, jambu biji juga memiliki vitamin C untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh dan trombosit membaik, pasien akan sembuh lebih cepat. (*)

Posted in kesehatan, Penyakit | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Energi Gelap Bikin Semesta Mengembang

SURVEI selama lima tahun pada 200.000 galaksi membuktikan bahwa energi gelap terbukti membuat semesta mengembang dengan percepatan tertentu. Penemuan itu didasarkan pada observasi menggunakan wahana Galaxy Evolution Explorer NASA dan Anglo Australian Telescope di Siding Spring Mountain, Australia.

Awalnya, astronom menggunakan peta galaksi 3D hasil pencitraan Galaxy Evolution Explorer. Selanjutnya, dengan Anglo Australian Telescope, astronom mencari pola jarak antargalaksi, jarak galaksi dengan Bumi, dan kecepatan galaksi menjauh dari Bumi. Dengan peta galaksi, astronom juga mempelajari bagaimana kluster galaksi berkembang.

Berdasarkan analisis, jarak antargalaksi pada permulaan semesta sekitar 500 juta tahun cahaya. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa jarak antargalaksi tersebut semakin menjauh. Gravitasi pada kluster galaksi menarik galaksi-galaksi baru, tetapi energi gelap seolah justru mendorongnya keluar.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa energi gelap adalah konstan secara kosmologis. Chris Blake, pimpinan investigasi dari Swinburne University of Technology, Melbourne, mengatakan, “Aksi energi gelap seperti ketika Anda melempar bola ke udara dan menjaganya tetap bergerak semakin cepat ke atas.”

Penemuan ini mendukung teori bahwa energi gelap bertindak sebagai gaya konstan yang secara tetap memengaruhi semesta, membuatnya mengembang. Sekaligus, hasil ini membantah teori alternatif bahwa penyebab mengembangnya semesta adalah gravitasi yang bertindak sebagai gaya dorong ketika jarak antarbenda jauh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Royal Astronomy Society. Energi gelap sendiri adalah bentuk energi yang mendominasi semesta, terdiri atas sekitar 74 persen. Materi gelap yang sampai saat ini masih misterius berjumlah 22 persen di semesta. Sementara materi “normal” yang kita kenal, seperti yang menyusun makhluk hidup, hanya 4 persen.

http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1389206/Dark-energy-DOES-exist-increasingly-driving-universe-apart-scientists-claim.html

Posted in astronomi, energi | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Kaliurang Rusak Parah

Pascaletusan Merapi, Kaliurang Rusak (Foto: Purwoko)

TAMAN Nasional Gunung Merapi yang juga dikenal sebagai objek wisata Kaliurang, Sleman Yogyakarta, rusak parah setelah diterjang awan panas saat erupsi Merapi, 26 November 2010 lalu. Sebagian besar pepohonan di perbukitan di bagian timur kawasan itu meranggas dan ada yang tumbang. Sisa-sisa debu dan pasir vulkanik juga masih banyak terdapat di lokasi itu. Batang dan ranting pepohohonan juga berserakan di kawasan itu.

Awan panas yang menerjang kawasan itu, suhunya diperkirakan masih mencapai 500 derajat celcius dan sangat mematikan. Namun uniknya, kera-kera yang sudah ratusan tahun hidup di kawasan itu banyak yang selamat. Diduga, saat bencana terjadi, mereka berhasil menyelamatkan diri di hutan di lereng bukit sebelah barat. Menurut pengamatan, pepohonan di bagian itu memang masih hijau.

Menurut Siswanto, anggota Polisi Hutan KPH setempat, pihaknya belum berani untuk membersihkan batang dan ranting pepohonan yang rusak. Untuk pembenahan kawasan itu memang masih harus menunggu instruksi dari Kementerian Kehutanan. Hal itu karena kawasan tersebut merupakan daerah konservasi.

Menurun

Lebih lanjut Siswanto mengatakan, pascaletusan Merapi, jumlah pengunjung di objek wisata itu mengalami penurunan. ”Akhir-akhir ini jumlah pengunjung tinggal sekitar 30 persen,” kata dia.

Sebelum bencana, pada saat liburan Natal, tahun baru, dan Lebaran pengunjung bisa datang menggunakan belasan bus. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Namun setelah letusan Merapi, jumlah pengunjungnya turun drastis.  Walaupun hari libur tahun baru, Minggu 2 Januari 2011 lalu pengunjung yang datang secara berombongan menggunakan bus bisa dihitung dengan jari.

Pada hari libur, jalan menuju kawasan itu biasanya juga dipadati kendaraan. Namun hari itu kendaraan yang melalui kebanyakan mobil pribadi dan sepeda motor. Pengunjung yang datang ke kawasan itu umumnya ingin melihat dampak letusan Merapi.

”Kalau pengunjung yang menuju ke daerahnya Mbah Maridjan malah meningkat,” kata dia. (Purwoko Adi Seno)

Posted in Gunung Meletus | Tagged , , , | Tinggalkan komentar

Tuhan Menciptakan Keseimbangan

BENCANA sudah mulai lagi melanda berbagai daerah di Indonesia. Jakarta misalnya, walaupun sebagai ibu kota negara, wilayah ini tetap tidak bisa lepas dari banjir yang terjadi setiap kali kawasan Jabodetabek diguyur hujan deras.

Sebelumnya, air juga menggenangi kabupaten Cilacap dan Banyumas. Penulis memperkirakan, pertengahan Oktober nanti Semarang juga akan mendapat giliran dilanda banjir. Demikian pula daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Orang kerap menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir. Padahal penyebab banjir paling dominan sebenarnya adalah perubahan tata guna lahan, dari yang semula tertutup vegetasi menjadi kawasan perumahan dan industri, serta infrastruktur lain.

Perubahan tersebut menggambarkan bahwa kita lupa bahwa spesies yang disebut Homo sapiens ini hidup dan merupakan bagian dari alam. Sedangkan alam, diciptakan Tuhan dengan memasukkan hukum-hukum keseimbangan.

Sebagai contoh, pada alam yang masih asli, hujan yang turun di perbukitan atau pegunungan tak akan langsung mengalir menuju ke sungai-sungai. Itu karena air hujan terlebih dulu menimpa dedaunan. Jika dedaunan itu sudah jenuh air, air pun sebagian mengalir ke tanah, di mana di permukaan tanah juga terdapat tanaman yang merambat. Semua tenaman itu memberikan kesempatan pada tanah untuk menyerap air, sehingga tidak semuanya langsung mengalir ke sungai.

Kebutuhan ruang untuk permukiman, industri, dan infrastruktur lainnya menyebabkan orang mengorbankan hutan dan kawasan hijau. Hal itu mengakibatkan kenaikan debit air yang masuk ke sungai-sungai bisa mencapai 25 kalinya. Jika kapasitas sungai tetap (atau justru berkurang akibat tingginya sedimentasi), maka perpaduan kedua faktor tersebut tentu akan meningkatkan risiko banjir.

Hilangnya hutan, juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat pemanasan global. Saat lapisan-lapisan es di kutub dan pegunungan tinggi mencair, jumlah air tawar yang masuk ke samudra juga akan bertambah.

Ini bisa mempengaruhi kadar garam di laut, yang pada gilirannya akan mempengaruhi arus laut. Padahal arus laut tersebut sangat berhubungan dengan transfer suhu di laut, di mana suhu muka laut sangat mempengaruhi cuaca.

Persoalan suhu muka air laut itu pula yang menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia tetap diguyur hujan di musim kemarau. Jika hujan semakin sering mengguyur, maka ancaman banjir, longsor, dan puting beliung juga meningkat.

Peningkatan volume air laut juga akan menenggelamkan pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir pulau-pulau besar. Berat yang bertambah akibat penambahan volume tersebut juga akan memengaruhi pergerakan lempeng bumi. Itu pula yang menyebabkan ancaman gempa dan tsunami menjadi semakin besar.

Kesimpulan dari semua itu, ketika manusia mengganggu keseimbangan alam. Alam akan berupaya mengembalikan posisi keseimbangan itu dengan banjir, longsor, gempa, tsunami, dan puting beliung. Dengan kata lain, berbagai peristiwa alam itu merupakan upaya alam untuk menuju keseimbangan baru, termasuk mungkin mengurangi populasi manusia. Lalu…., kapankah manusia menyadari semua ini ?. (Purwoko)

Posted in Badai, Banjir, Gempa, La Nina | Tagged , , , , , | Tinggalkan komentar

Oktober-Januari Bakal Terjadi La Nina Kuat

MENGERIKAN, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan keadaan cuaca Oktober 2010 hingga Januari 2011 nanti, saat La Nina kuat terjadi di Indonesia. Seperti sudah berlangsung selama jutaan tahun silam, dalam rentang waktu Oktober-April, posisi matahari akan selalu berada di sebelah selatan katulistiwa.

Kondisi itu mengakibatkan di sebagian besar wilayah Indonesia bakal berada dalam musim hujan. Pada kondisi biasa, musim hujan tersebut sudah cukup menimbulkan berbagai persoalan.

Hujan di daerah-daerah rawan banjir mengakibatkan genangan di mana-mana. Sedangkan di daerah rawan pergerakan tanah, hujan bisa memicu terjadinya longsor. Pada masa pancaroba dari kemarau ke musim hujan atau sebaliknya, di berbagai wilayah juga kerap dilanda angin puting beliung.

Untuk tahun 2010 ini, beragam bencana itu kemungkinan bakal menghebat. Seperti diberitakan Antara, Sabtu 25 September lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan adanya fenomena La Nina kuat. Fenomena itu diperkirakan bakal terjadi Oktober 2010 hingga Januari 2011.

Menurut analis cuaca Stasiun Meteorologi Cilacap, Teguh Wardoyo, kondisi cuaca saat terjadinya fenomena La Nina kuat diprediksikan lebih ekstrem dibanding saat La Nina Moderat. Hal itu karena fenomena La Nina akan berlangsung di saat musim hujan.

Menurutnya, fenomena La Nina berdampak pada penyimpangan iklim yang cukup signifikan. Pada musim kemarau saja, cuaca 2010 merupakan kondisi paling ekstrem selama 12 tahun terakhir.

Fenomena pemanasan suhu muka laut yang hampir merata di seluruh wilayah Indonesia ini, mirip dengan iklim di tahun 1998. Untuk tahun ini, cuaca ekstrem akan berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia hingga akhir tahun 2010.

Fenomena La Nina diprediksi akan terus dominan hingga Maret 2011 dan selanjutnya menuju kondisi netral April 2011.

‘’Hal tersebut menjadikan peringatan bagi kita semua, terutama bagi pihak-pihak yang berkompeten dalam bidang ini. Pada saat Kemarau saja curah hujan sudah berlebih,’’ katanya. (Purwoko- Sumber: http://id.news.yahoo.com/)

Posted in La Nina | 2 Komentar

Memulai Usaha Dengan Membuat Telur Asin

PERSOALAN kebencanaan, sebenarnya bukan hanya berkutat tentang bagaimana mencegah atau melakukan tindakan saat bencana terjadi. Berbagai persoalan kerentanan, juga perlu mendapat perhatian serius.
Salah satu persoalan tersebut adalah kemiskinan dan pengangguran. Warga yang tidak memiliki pekerjaan dan hidup serba kekurangan, merupakan golongan masyarakat yang paling rentan menjadi korban bencana.
Karena itu upaya mengentaskan kemiskinan, merupakan sebuah usaha mutlak yang perlu dilakukan semua pihak, terutama pemerintah. Upaya pengentasan itu, bisa dilakukan dengan banyak cara, termasuk membuka usaha mandiri. Produk yang dibuat pun tak harus selalu wah…., tetapi bisa memulai dari yang sederhana, seperti misalnya membuat telur asin.
Telur asin, sejak lama memang telah terbukti menjadi salah satu “teman” nasi yang mudah didapat. Di Banjarnegara, makanan ini bahkan menjadi salah satu unggulan daerah itu. Lauk yang satu ini, bahkan tersedia di banyak warung kelontong, pasar tradisonal, serta supermarket.
Jika ada waktu, kita pun dapat membuatnya sendiri di rumah. Bahan-bahannya pun mudah didapat. Berikut cara membuatnya. Selengkapnya di ….

Posted in Tak Berkategori | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Ancaman Bencana Kembali Incar Semarang

MUSIM hujan telah tiba, dan ancaman bencana banjir serta longsor kembali mengincar Kota Semarang. Di kota ini terdapat tiga jenis banjir, yakni kiriman, genangan lokal, dan rob. Dari ketiganya, banjir kiriman adalah yang paling berbahaya.

Warga asli kota ini banyak yang masih ingat ketika tahun 1990 lalu, sebuah banjir kiriman dengan debit sangat besar, menerjang Kota Semarang bagian bawah. Tercatat hampir 100 korban jiwa melayang, akibat air bah melanda daerah Sampangan, Panjangan, dan Sekitarnya.

Banjir tersebut terjadi akibat debit air Kali Garang, Kali Kreo, dan Kali Kripik meningkat cukup tajam. Hal itu mengakibatkan tanggul Kali Garang di daerah Panjangan jebol dan air menerjang kawasan itu.

Dengan semakin kacaunya iklim akibat pemanasan global, kemungkinan terjadinya banjir-banjir semacam itu makin besar. Untuk itu warga di daerah aliran Kali Garang, Banjirkanal Timur, Banjirkanal Barat, dan Kali Babon sebaiknya waspada. (Purwoko Adi Seno)

Posted in Banjir | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Banjir dan PKL Banjirkanal Timur

BANJIRKANAL Timur Bocor di Empat Titik”. Demikianlah judul berita di Harian Suara Merdeka, Kamis 18 Juni 2009. Dalam berita tersebut dijelaskan, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA dan ESDM) Kota Semarang, menemukan empat titik kebocoran di Banjirkanal Timur.

Menurut Kepala Dinas PSDA dan ESDM Fauzi MT, kebocoran itu menjadi penyebab tergenangnya permukiman warga di kawasan Mlatiharjo, Kecamatan Semarang Timur beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kebocoran tanggul diakibatkan oleh ulah pemilik kios yang mengepras tanggul untuk memperluas bangunan. Pengeprasan mengurangi kekuatan tanggul. Saat air sungai meluap, titik yang dikepras itu bocor. Air dari Banjirkanal Timur pun mengalir deras ke permukiman warga di sekitarnya.

Walaupun tidak menempati sebagai headline edisi Semarang Metro, namun berita tersebut cukup menarik. Jika dicermati, terdapat dua persoalan utama dalam kasus banjir tersebut.

Pertama, secara teknis Banjirkanal Timur merupakan sebuah sungai bertanggul di wilayah perkotaan. Hulu sungai ini, berada di wilayah perbatasan Kecamatan Tembalang, Kecamatan Pedurungan, dan Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak.

Bagian hulu ditandai dengan adanya bendungan, yang dibangun sejak zaman Belanda. Sungai ini memperoleh aliran dari Kali Penggaron, yang oleh warga di Rowosari disebut Kali Gede. Aliran Kali Penggaron tersebut bermula dari Gunung Ungaran, dan kemudian melalui wilayah hutan lindung Penggaron.

Aliran sungai tersebut kemudian terus turun hingga melalui wilayah Banyumeneng dan kemudian memecah. Sebagian terus ke Demak, sebagian lagi masuk ke Klipang.

Sesampai di Klipang, aliran sungai ini kembali dibagi, yakni ke Banjirkanal Timur dan ke Kali Babon. Saat ini sedang diupayakan untuk menambah aliran, yakni dengan sudetan Dombo-Sayung.

Berdasarkan pengamatan, kondisi sebagian daerah aliran sungai (DAS) Penggaron, saat ini sudah mengalami perubahan. Wilayah di Ungaran Timur dan Tembalang yang semula perkebunan dan sawah, kini telah berubah menjadi permukiman. Hal ini mengakibatkan debit sungai meningkat, bahkan bisa sampai 25 kalinya. Sungguh mengerikan membayangkan kondisi tersebut.

Betapa tidak, ancaman luapan sungai tersebut, kini menjadi kian besar. Perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali, bukan hanya menambah debit air, tetapi juga memperbanyak sedimen.

Secara teoritis, kondisi tersebut bisa diperbaiki dengan mengacu pada Delta Q Zero Policy. Secara teknis, kebijakan tersebut bisa diterjemahkan dengan pembangunan embung, waduk, terjunan-terjunan, sumur resapan, dan pengendalian tata guna lahan.

Namun fakta menunjukkan bahwa pembuatan bangunan-bangunan pengairan semacam itu tidak pernah dilakukan. Maka tidak heran, jika dalam beberapa tahun terakhir ini, kemungkinan Banjirkanal Timur meluap menjadi semakin besar.

Tanggul

Dengan kondisi semacam ini, fungsi tanggul sungai menjadi sangat penting. Ketika terjadi peningkatan debit, tanggul itu merupakan satu-satunya harapan warga untuk selamat dari ancaman bencana.

Namun harapan tersebut tinggalah harapan. Di sepanjang tepi tanggul di sebelah barat sungai, sejak puluhan tahun silam sudah ada bangunan-bangunan semi permanen milik pedagang kaki lima. Mereka menjual beragam jenis barang, mulai dari sepeda bekas, sampai komponen mobil dan sepeda motor.

Bangunan-bangunan tersebut, semula memang hanya sekadar menempel di tanggul. Namun kemudian, kebutuhan akan ruang membuat pemilik bangunan lebih memilih mengorbankan keselamatan, dengan mengepras tanggul.

Akibatnya, pengaman itu pun bocor dan ketika debit meningkat, air masuk ke permukiman melalui bagian-bagian yang lemah tersebut.

Wilayah di tepi tanggul sungai, sebenarnya telah diatur dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan dan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai, dan Bekas Sungai.

Dalam peraturan itu disebutkan, garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan, ditetapkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Hal ini berarti tidak boleh ada satupun bangunan yang menempel ke tanggul, walaupun itu hanya berupa tempat dasaran PKL.

Namun PKL Barito dalam hal ini juga tidak bisa 100% menjadi tumpuan kesalahan. Semula, mereka menempati lapangan di depan Stasiun Tawang. Oleh pemerintah, mereka kemudian dipindah ke Barito.

Sedangkan kini lapangan itu kini telah diubah menjadi sebuah kolam retensi, untuk menampung air hujan yang jatuh di kawasan Kota Lama. Dengan kondisi semacam itu, persoalan Banjirkanal Timur, ternyata bukan hanya persoalan teknis hidrologi, tetapi juga akibat kebijakan Pemkot yang tidak memperhatikan visi ke depan. Dengan kata lain, persoalan banjir tersebut bukan hanya merupakan tanggung jawab para PKL, tetapi juga Pemkot dan Pemprov.

Bahkan pemerintah memiliki porsi tanggung jawab paling besar. Hal ini karena penataan dan penempatan PKL, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Dinas Pasar.(Purwoko)

Posted in Banjir | Tagged | Tinggalkan komentar