Bumi, Planet Biru Rawan Bencana

JIKA dilihat dari angkasa luar, Bumi adalah sebuah planet biru yang kadang-kadang sebagian wilayahnya berselimut putih, berbeda dengan beberapa planet lain seperti Merkurius, Mars, Jupiter, dan Saturnus yang cenderung coklat.
Selama ini, Bumi pula yang diketahui sebagai satu-satunya “rumah” bagi planet spesies Homo Sapiens, yaitu kita, manusia. Berbagai eksplorasi memang telah dilakukan untuk mencari “rumah” lain. Tetapi belum ada satu pun yang meyakinkan kita untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal baru.
Pada 1999, penduduk dunia mencapai lebih dari lima miliar manusia dan 2014 sudah meningkat menjadi lebih dari tujuh miliar jiwa. Setiap tahun, jumlah manusia di planet yang memiliki daratan seluas 148,940,540 Km2 ini juga akan bertambah.
Tetapi, sesungguhnya Bumi bukan merupakan yang 100 persen aman untuk dijadikan tempat tinggal. Bencana demi bencana, termasuk yang berskala besar terjadi dan merenggut jutaan jiwa manusia.

Berikut sekelumit materi tentang bencana dan jurnalistik. Untuk sekelumit pemahamanan tentang bencana, silakan download di sini. Untuk pemahaman tentang jurnalistik, silakan klik di sini. Semoga bermanfaat.

Iklan

Badai Fletcher, Jauh di Mata, Dekat di Bencana

 

Sumber BMKG

Sumber BMKG

Sumber BMKG

Sumber BMKG

HUJAN turun sepanjang hari, Senin 3 Februari 2014 malam sampai keesokan harinya, dan mengguyur Kota Semarang. Bencana pun tak terelakkan. Banjir terjadi di mana-mana.

Di ibu kota Jawa Tengah ini, banjir melanda jalur pantura, menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan bahkan macet. Luapan Kali Beringin di wilayah barat, bukan hanya membuat permukiman warga tergenang, tetapi juga jalan Kendal-Semarang.

Banjir yang terjadi di kawasan real estate Anjasmoro, bukan hanya menggenangi rumah-rumah mewah di kawasan itu, tetapi juga jalan-jalan di kompleks perkantoran. Banyak pegawai pemerintah yang hendak bekerja di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, dan sejumlah kantor lain, harus mengurungkan niatnya. Bisa dipastikan, tempat kerja mereka juga terendam.

Lebih ke timur, Kali Banger juga meluap, membuat lantai dasar Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum ikut tergenang. Ancaman banjir di kawasan itu juga dari Banjirkanal Timur yang sudah mulai meluap.

Lebih ke timur lagi, Kali Tenggang kembali meluap dan merendam perumahan Genuk Indah, Kelurahan Gebangsari; permukiman penduduk di Gebanganom, kelurahan Genuksari dan sekitarnya.

Di luar Kota Semarang, banjir juga menggenangi Kabupaten Kendal dan Kabupaten Demak. Bencana ini membuat arus lalu lintas di jalur Pantura nyaris lumpuh.

Banyak orang menuding hujan sebagai penyebab semua kemalangan itu. Tudingan tersebut memang ada benarnya. Potensi hujan yang turun Senin dan Selasa (3 – 4 Januari 2014), nampaknya dipengaruhi oleh tutupan awan yang meliputi seluruh Pulau Jawa. Hal itu nampak dari citra satelit yang ditunjukkan oleh BMKG melalui situs http://www.bmkg.go.id/.

Pembentukan awan itu, dipengaruhi pula oleh badai tropis Fletcher di selatan Indonesia, di dekat Australia. Menurut  Brisbane times.com.au, siklon yang masuk kategori satu tersebut, mulai mendarat di wilayah antara Karumba dan Gilbert River Mouth di Teluk Carpentaria, pukul 07:30, Senin 3 Februari 2014. Sejak masih berupa tekanan rendah, bibit badai tersebut sudah membentuk awan dan mendatangkan hujan.

Kita bisa bayangkan, walaupun berjarak 2.080 km dari lokasi badai Flatcher, tetapi Kota Semarang ternyata menerima dampak luar biasa. Selain banjir, longsor juga menimpa rumah di Pudakpayung. – Lanjut – (Purwoko)

Tuhan Menciptakan Keseimbangan

BENCANA sudah mulai lagi melanda berbagai daerah di Indonesia. Jakarta misalnya, walaupun sebagai ibu kota negara, wilayah ini tetap tidak bisa lepas dari banjir yang terjadi setiap kali kawasan Jabodetabek diguyur hujan deras.

Sebelumnya, air juga menggenangi kabupaten Cilacap dan Banyumas. Penulis memperkirakan, pertengahan Oktober nanti Semarang juga akan mendapat giliran dilanda banjir. Demikian pula daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Orang kerap menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir. Padahal penyebab banjir paling dominan sebenarnya adalah perubahan tata guna lahan, dari yang semula tertutup vegetasi menjadi kawasan perumahan dan industri, serta infrastruktur lain.

Perubahan tersebut menggambarkan bahwa kita lupa bahwa spesies yang disebut Homo sapiens ini hidup dan merupakan bagian dari alam. Sedangkan alam, diciptakan Tuhan dengan memasukkan hukum-hukum keseimbangan.

Sebagai contoh, pada alam yang masih asli, hujan yang turun di perbukitan atau pegunungan tak akan langsung mengalir menuju ke sungai-sungai. Itu karena air hujan terlebih dulu menimpa dedaunan. Jika dedaunan itu sudah jenuh air, air pun sebagian mengalir ke tanah, di mana di permukaan tanah juga terdapat tanaman yang merambat. Semua tenaman itu memberikan kesempatan pada tanah untuk menyerap air, sehingga tidak semuanya langsung mengalir ke sungai.

Kebutuhan ruang untuk permukiman, industri, dan infrastruktur lainnya menyebabkan orang mengorbankan hutan dan kawasan hijau. Hal itu mengakibatkan kenaikan debit air yang masuk ke sungai-sungai bisa mencapai 25 kalinya. Jika kapasitas sungai tetap (atau justru berkurang akibat tingginya sedimentasi), maka perpaduan kedua faktor tersebut tentu akan meningkatkan risiko banjir.

Hilangnya hutan, juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat pemanasan global. Saat lapisan-lapisan es di kutub dan pegunungan tinggi mencair, jumlah air tawar yang masuk ke samudra juga akan bertambah.

Ini bisa mempengaruhi kadar garam di laut, yang pada gilirannya akan mempengaruhi arus laut. Padahal arus laut tersebut sangat berhubungan dengan transfer suhu di laut, di mana suhu muka laut sangat mempengaruhi cuaca.

Persoalan suhu muka air laut itu pula yang menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia tetap diguyur hujan di musim kemarau. Jika hujan semakin sering mengguyur, maka ancaman banjir, longsor, dan puting beliung juga meningkat.

Peningkatan volume air laut juga akan menenggelamkan pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir pulau-pulau besar. Berat yang bertambah akibat penambahan volume tersebut juga akan memengaruhi pergerakan lempeng bumi. Itu pula yang menyebabkan ancaman gempa dan tsunami menjadi semakin besar.

Kesimpulan dari semua itu, ketika manusia mengganggu keseimbangan alam. Alam akan berupaya mengembalikan posisi keseimbangan itu dengan banjir, longsor, gempa, tsunami, dan puting beliung. Dengan kata lain, berbagai peristiwa alam itu merupakan upaya alam untuk menuju keseimbangan baru, termasuk mungkin mengurangi populasi manusia. Lalu…., kapankah manusia menyadari semua ini ?. (Purwoko)

Gustav, Sebuah Catatan

SEBUAH badai yang hebat bernama Gustav, Selasa, 2 September 2008 lalu mulai menyerang daratan Amerika Serikat, masuk dari Cocodrie, 130 kilometer bagian barat daya New Orleans, Lousiana pukul 9.30 waktu setempat.

Meski kekuatannya dilaporkan menurun, hanya 2 dari skala 1-5, badai tersebut menyebabkan gelombang tinggi yang memicu banjir dan putusnya jaringan listrik di seluruh kota tersebut.

Kota yang permukaannya rendah tersebut terancam banjir bandang jika tanggul penahan yang dibangun di sekeliling kota jebol. Gelombang pasang melebihi tinggi tanggul dan telah meluap ke dalam kota.

Sebelumnya, ratusan warga negara Indonesia di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat (AS) telah mengungsi keluar dari kota tersebut. Mereka merupakan bagian dari ribuan warga yang sejak Sabtu (30/8) telah meninggakan New Orleans.

Konsul Jenderal RI di Houston, Kria Fahmi Pasaribu, Minggu (31/8), mengatakan para warga Indonesia itu telah menyebar ke berbagai wilayah, yaitu ke Houston, Oklahoma, Tennessee, North Carolina. “Ada juga yang tidak keluar dari Lousiana, tapi mereka telah mengungsi ke tempat-tempat yang aman,” kata Fahmi.

Menurut Konjen RI itu, total warga negara Indonesia yang tinggal di New Orleans berjumlah sekitar 100 orang. ‘’Jumlah tersebut adalah mereka yang pernah melakukan lapor diri. Mungkin saja jumlahnya lebih dari 100 mengingat kadang-kadang ada juga warga kita yang tidak pernah lapor diri,’’ ujarnya.

Hingga Minggu, seperti diungkapkan Fahmi, warga Indonesia yang mengungsi ke Houston berjumlah sekitar 15 orang.  Mereka menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari New Orleans, lebih lama dari waktu-waktu normal, yang biasanya hanya sekitar lima  jam. Jumlah warga Indonesia yang berada di Florida diperkirakan mencapai 2.000 orang.

Bencana tersebut tentu telah membuat jutaan orang menderita. Namun bencana-bencana semacam itu memang hanya ada di wilayah-wilayah yang jauh dari Katulistiwa.

Gaya Corioli atau gaya perputaran bumi, menyebabkan wilayah-wilayah katulistiwa –termasuk Indonesia-  tidak akan pernah secara langsung dihantam badai semacam itu. Kalaupun ada, aníllala berupa angin puting beliung atau hujan lebat.

Di satu sisi kita prihatin terhadap penderitaan warga Amerika Serikat. Namun di sisi lain kita bersyukur, bahwa bencana mengerikan semacam topan Gustav tak akan pernah mampir ke Indonesia.