Polar Vortex dan Indonesia

Gambar

(sumber : www.theweatherprediction.com)

SUDAH berkali-kali terbukti, bumi bukan tempat aman bagi manusia. Setiap saat, bencana besar selalu mengancam.Penduduk dunia tentu belum melupakan gempa dengan magnitude 9,1–9,3 yang menyebabkan tsunami, Minggu, 26 Desember 2004. Peristiwa itu mengakibatkan 184.167 orang di Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagascar tewas.

Penduduk dunia juga belum melupakan Badai Haiyan, berkecepatan 260 kilometer per jam dan merupakan badai kategori 5 dalam skala Saffir-Simpson. Hantaman badai tersebut mengakibatkan 6.100 orang di Filipina tewas, di China 12 orang, dan Vietnam 14 orang.

Ketika penduduk Filipina belum pulih, awal 2014 lalu ganti penduduk Amerika Serikat yang mendapat ancaman bencana. Cuaca dingin ekstrem akibat polar vortex mengancam penduduk di sebagian negeri itu.

BBC, Senin (6/1/2014) melaporkan, suhu di beberapa wilayah Amerika Serikat mencapai titik ekstrem. Perlu diingat, bahwa titik beku air adalah 0 derajat celsius. Bisa dibayangkan, ketika sebuah polar vortex mampu membuat suhu mencapai minus 50 derajat celsius.

 Pemanasan Global

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Edvin Aldrian mengungkapkan, polar vortex yang menyerang Amerika Serikat tersebut terbentuk di kutub utara di Kanada. Aliran udara dingin yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam ini sebenarnya hanya terkonsentrasi di wilayah kutub. Tetapi saat melemah atau karena perbedaan suhu dan tekanan dengan wilayah di lintang lebih rendah, polar vortex bisa menjalar lebih ke selatan.

Penjalaran hingga wilayah yang jauh ke selatan ini merupakan kontribusi pemanasan global. ‘’Pemanasan global menyebabkan temperatur di wilayah tropis lebih tinggi. Temperatur lebih tinggi berarti tekanan lebih rendah. Udara bergerak dari tekanan tinggi ke rendah,’’ ungkap Edvin.

Pemanasan global juga membuat perbedaan suhu dan tekanan lebih besar, sehingga polar vortex berdampak pada wilayah yang jauh lebih ke selatan dari sebelumnya.

Selain memanaskan wilayah tropis, pemanasan global juga memanaskan wilayah Arktik, membuat banyak es mencair. Pemanasan di wilayah Artik memungkinkan semakin seringnya sistem polar vortex menjadi tidak stabil, hingga akhirnya menjalar ke luar kutub.

Menurut Edvin, peristiwa tersebut juga mengurangi dampak seruak dingin dari Siberia ke arah katulistiwa. Bagi Indonesia, seruak dingin tersebut bisa berdampak pada peningkatan curah hujan dan risiko banjir.

Tetapi bukan itu masalahnya. Banjir di Indonesia bukan semata-mata disebabkan oleh curah hujan. Beberapa faktor lain yang sering menyebabkan bencana ini, antara lain perubahan land use, pembuangan sampah sembarangan, erosi, dan sedimentasi, kawasan kumuh di sepanjang sungai dan drainase, serta pengaruh pasang air laut dan penurunan tanah.

Dari dua peristiwa, yakni Yolanda dan musim dingin ekstrem di Amerika Serikat, kita harus mengakui bahwa pemanasan global telah mewujud menjadi ancaman nyata. Setelah Filipina dan Amerika Serikat, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Di sisi lain, seperti disampaikan WWF Indonesia, Indonesia merupakan paru-paru dunia. Indonesia memiliki hutan seluas 99,6 juta hektare atau 52,3% luas wilayah Indonesia (data : Buku Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut 2011 yang dipublikasi pada bulan Juli 2012). Tetapi hijau alam Indonesia ini makin menyusut akibat perubahan tata guna lahan secara tak terkendali. Laju deforestasi hutan Indonesia mencapai 610.375,92 Ha per tahun (2011) dan tercatat sebagai tiga terbesar di dunia.

Karena itu, menyelamatkan hutan Indonesia menjadi sesuatu yang penting. Hal itu karena hutan memiliki banyak fungsi penting bagi kehidupan manusia. Kawasan hutan merupakan tempat penyimpanan air hujan secara alami. Keberadaan hutan yang masih baik, dapat mencegah banjir, erosi, dan kekeringan.

Beragam tanaman di hutan, juga menjadi penyerap karbon, yang merupakan salah satu unsur gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Tanaman-tanaman itu, dalam proses fotosintesis juga mengeluarkan oksigen yang sangat berguna bagi manusia dan berbagai mahluk hidup lain.

Selain menjaga kelestarian hutan, kita tentu juga perlu menghijaukan lingkungan, menghemat energi, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan mengelola sampah. Sudah saatnya, “kehidupan hijau” menjadi salah satu materi yang diajarkan di sekolah-sekolah, bukan hanya dalam tataran teoritis, tetapi juga praktis. (Purwoko-dari berbagai sumber)

One thought on “Polar Vortex dan Indonesia

  1. Ping-balik: Banjir Kali Tenggang Tak Kunjung Usai | Pemerhati Bencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s