Bumi, Planet Biru Rawan Bencana

JIKA dilihat dari angkasa luar, Bumi adalah sebuah planet biru yang kadang-kadang sebagian wilayahnya berselimut putih, berbeda dengan beberapa planet lain seperti Merkurius, Mars, Jupiter, dan Saturnus yang cenderung coklat.
Selama ini, Bumi pula yang diketahui sebagai satu-satunya “rumah” bagi planet spesies Homo Sapiens, yaitu kita, manusia. Berbagai eksplorasi memang telah dilakukan untuk mencari “rumah” lain. Tetapi belum ada satu pun yang meyakinkan kita untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal baru.
Pada 1999, penduduk dunia mencapai lebih dari lima miliar manusia dan 2014 sudah meningkat menjadi lebih dari tujuh miliar jiwa. Setiap tahun, jumlah manusia di planet yang memiliki daratan seluas 148,940,540 Km2 ini juga akan bertambah.
Tetapi, sesungguhnya Bumi bukan merupakan yang 100 persen aman untuk dijadikan tempat tinggal. Bencana demi bencana, termasuk yang berskala besar terjadi dan merenggut jutaan jiwa manusia.

Berikut sekelumit materi tentang bencana dan jurnalistik. Untuk sekelumit pemahamanan tentang bencana, silakan download di sini. Untuk pemahaman tentang jurnalistik, silakan klik di sini. Semoga bermanfaat.

Badai Fletcher, Jauh di Mata, Dekat di Bencana

 

Sumber BMKG

Sumber BMKG

Sumber BMKG

Sumber BMKG

HUJAN turun sepanjang hari, Senin 3 Februari 2014 malam sampai keesokan harinya, dan mengguyur Kota Semarang. Bencana pun tak terelakkan. Banjir terjadi di mana-mana.

Di ibu kota Jawa Tengah ini, banjir melanda jalur pantura, menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan bahkan macet. Luapan Kali Beringin di wilayah barat, bukan hanya membuat permukiman warga tergenang, tetapi juga jalan Kendal-Semarang.

Banjir yang terjadi di kawasan real estate Anjasmoro, bukan hanya menggenangi rumah-rumah mewah di kawasan itu, tetapi juga jalan-jalan di kompleks perkantoran. Banyak pegawai pemerintah yang hendak bekerja di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, dan sejumlah kantor lain, harus mengurungkan niatnya. Bisa dipastikan, tempat kerja mereka juga terendam.

Lebih ke timur, Kali Banger juga meluap, membuat lantai dasar Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum ikut tergenang. Ancaman banjir di kawasan itu juga dari Banjirkanal Timur yang sudah mulai meluap.

Lebih ke timur lagi, Kali Tenggang kembali meluap dan merendam perumahan Genuk Indah, Kelurahan Gebangsari; permukiman penduduk di Gebanganom, kelurahan Genuksari dan sekitarnya.

Di luar Kota Semarang, banjir juga menggenangi Kabupaten Kendal dan Kabupaten Demak. Bencana ini membuat arus lalu lintas di jalur Pantura nyaris lumpuh.

Banyak orang menuding hujan sebagai penyebab semua kemalangan itu. Tudingan tersebut memang ada benarnya. Potensi hujan yang turun Senin dan Selasa (3 – 4 Januari 2014), nampaknya dipengaruhi oleh tutupan awan yang meliputi seluruh Pulau Jawa. Hal itu nampak dari citra satelit yang ditunjukkan oleh BMKG melalui situs http://www.bmkg.go.id/.

Pembentukan awan itu, dipengaruhi pula oleh badai tropis Fletcher di selatan Indonesia, di dekat Australia. Menurut  Brisbane times.com.au, siklon yang masuk kategori satu tersebut, mulai mendarat di wilayah antara Karumba dan Gilbert River Mouth di Teluk Carpentaria, pukul 07:30, Senin 3 Februari 2014. Sejak masih berupa tekanan rendah, bibit badai tersebut sudah membentuk awan dan mendatangkan hujan.

Kita bisa bayangkan, walaupun berjarak 2.080 km dari lokasi badai Flatcher, tetapi Kota Semarang ternyata menerima dampak luar biasa. Selain banjir, longsor juga menimpa rumah di Pudakpayung. – Lanjut – (Purwoko)

Fungsi Lahan Berubah, Banjir Terus

Banjir Semarang 4 Februari 2014MENGAPA banjir yang terjadi di Semarang , Selasa 4 Februari 2014 bisa sedemikian luas ? Jawabannya adalah perubahan tata guna lahan yang tidak diantisipasi.

Seperti pernah saya sampaikan dalam 13 Penyebab Banjir, 1 Desember 2011 silam, hujan hanyalah salah satu penyebab banjir. Untuk Indonesia, ternyata faktor alam itu juga bukan yang paling dominan.

Untuk kasus Kota Semarang, banjir umumnya disebabkan oleh perubahan tata guna lahan di bagian hulu daerah aliran sungai, kondisi drainase yang buruk, dan penurunan tanah.

Seperti banjir akibat luapan Banjirkanal Timur, persoalannya tidak hanya pada daerah yang tergenang, tetapi di seluruh wilayah yang dilayani sungai tersebut. Aliran utama Banjirkanal Timur, berasal dari Kali Babon melalui pintu air di kawasan Klipang- Pucanggading. Adapun Kali Babon, aliran utamanya berasal dari Ungaran, melalui Kali Hutan Penggaron dan Banyumeneng, Mranggen, Demak. Perubahan tata guna lahan di Ungaran Timur, termasuk pembangunan Jalan Tol Semarang – Bawen, ternyata ikut mempengaruhi sungai ini. Hal itu antara lain terlihat di sungai yang dilintasi Jembatan Banyumeneng. Di sungai tersebut, sedimentasi terlihat sangat tebal, menandakan erosi yang terjadi juga tinggi.

Selain dari tempat itu, Banjirkanal Timur juga memperoleh aliran dari kawasan Tembalang, termasuk dari wilayah Ketileng, Klipang, Sendangmulyo, Sambiroto, dan Mangunharjo. Aliran air dari kawasan itu masuk ke Banjirkanal Timur di Gemah, melalui saluran di depan RSUD Kota Semarang dan saluran yang melintasi Jalan Kedungmundu, untuk kemudian.

Wilayah lain yang menyumbang air ke Banjirkanal Timur adalah kawasan Tandang dan Jomblang, antara lain melalui sungai di Jalan Saputan Raya dan Kali Mrican. Selain itu, air dari kawasan Tegalsari, Jomblang, dan Peterongan juga dibuang ke Banjirkanal Timur.

Untuk kondisi saat ini, dari berbagai kawasan itu, yang masih dan akan terjadi perubahan tata guna lahan adalah wilayah Tembala dan bagian utara Kecamatan Ungaran Timur. Karena itu, sangat penting untuk diupayakan agar fungsi lahan di kawasan ini tidak berubah.

Di sisi lain, sulit bagi Pemkot Semarang untuk meminta Pemkab Semarang menahan laju perubahan ini. Karena itulah, Gubernur harus turun tangan untuk memberikan solusi. (Purwoko-)

Banjir Kali Tenggang Tak Kunjung Usai

Perlu Penanganan Menyeluruh

Sistem Drainase Kali TenggangMEMASUKI 2014, hujan kembali mengguyur Kota Semarang. Polar Vortex yang menerjang Amerika Serikat, memang menyebabkan hujan di Indonesia tidak menjadi terlalu ekstrem. Walau demikian, di Kota Semarang, banjir terjadi di mana-mana.

Semarang memang terkenal sebagai kota banjir. Bahkan kondisi ini juga disebut dalam sebuah lagu Jawa ciptaan Anjarany. Lagu bertajuk Jangkrik Genggong ini dipopulerkan oleh Waljinah.

‘’Semarang kaline banjir

Jo semelang rak dipikir

Jangkrik upo sobo ning tonggo

Melumpat ning tengah jogan’’

Demikian petikan lagu tersebut. Tetapi bagi orang Semarang, banjir di kotanya itu memang membuat semelang (khawatir) dan terpaksa dipikir. Bagaimana tidak, banjir sudah sangat mengganggu kehidupan.

Banjir pada awal Januari 2014 menyebabkan genangan sedalam 30 – 40 centimeter di beberapa lokasi. Beberapa lokasi yang cukup parah, antara lain kawasan Tlogosari, Muktiharjo, dan Jalan Kaligawe. Bencana itu juga memaksa SD Muktiharjo Kidul meliburkan para siswanya.

Banjir di kawasan ini merupakan akibat kondisi Kali Tenggang yang buruk. Hulu drainse ini berada di kawasan Pedurungan, melalu depan Swalayan Ada dan sebagian berbelok ke arah utara melalui Perumahan Tlogosari. Kali Tenggang, juga menjadi batas perumahan ini dengan Kampung Bugen.

Pendangkalan

Di wilayah-wilayah itulah Kali Tenggang mengalami pendangkalan serius. Di beberapa bagian bahkan nampak “pulau-pulau” di tengah saluran. Tetapi untuk membersihkan endapan / sedimen tersebut juga tidak mudah. Banyak dinding belakang rumah warga yang mepet ke sungai. Selain itu, mendekati muara, persoalan Kali Tenggang juga bertambah akibat adanya penurunan tanah. Bahkan untuk Kampung Tenggang, sebagian wilayahnya sudah berada di bawah permukaan air laut ketika pasang.

Karena itu, upaya untuk menyelesaikan persoalan banjir tersebut tidak cukup dengan meninggikan jalan. Pemerintah perlu menerapkan one river, one plan, one management, atau dengan kata lain melakukan penanganan secara menyeluruh.

Secara teknis, badan-badan sungai tersebut perlu dikeruk dari hulu ke hilir. Selain itu di bagian muara perlu dibangun sistem polder. Jalan arteri Yos Sudarso sebenarnya dapat digunakan sebagai badan tanggul untuk menghalangi air laut masuk. Pada mulut sungai di bawah jalan itu, perlu dilengkapi pintu air. Selain itu, bagian sungai di tempat itu perlu dikeruk lebih dalam dan difungsikan sebagai long storage. Air dari kolam tersebut kemudian dibuang ke laut menggunakan pompa.

Tentu saja, upaya teknis ini perlu mendapat dukungan semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Kota Semarang harus berani menegakkan aturan, untuk membersihkan bantaran sungai tersebut dari bangunan. Hal ini juga harus mendapat dukungan dari masyarakat. Para pelanggar aturan tentang sungai, tidak boleh bersikukuh untuk tinggal di bantaran. Dengan kata lain, kalau memang diperlukan, mereka harus pindah, walaupun tanpa ganti rugi.

Mereka sebenarnya tidak layak memperoleh ganti rugi. Hal itu karena perbuatan mereka mendirikan bangunan di bantaran sungai dan menghambat upaya normalisasi, kenyataannya telah merugikan banyak pihak. (Purwoko)

Polar Vortex dan Indonesia

Gambar

(sumber : www.theweatherprediction.com)

SUDAH berkali-kali terbukti, bumi bukan tempat aman bagi manusia. Setiap saat, bencana besar selalu mengancam.Penduduk dunia tentu belum melupakan gempa dengan magnitude 9,1–9,3 yang menyebabkan tsunami, Minggu, 26 Desember 2004. Peristiwa itu mengakibatkan 184.167 orang di Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagascar tewas.

Penduduk dunia juga belum melupakan Badai Haiyan, berkecepatan 260 kilometer per jam dan merupakan badai kategori 5 dalam skala Saffir-Simpson. Hantaman badai tersebut mengakibatkan 6.100 orang di Filipina tewas, di China 12 orang, dan Vietnam 14 orang.

Ketika penduduk Filipina belum pulih, awal 2014 lalu ganti penduduk Amerika Serikat yang mendapat ancaman bencana. Cuaca dingin ekstrem akibat polar vortex mengancam penduduk di sebagian negeri itu.

BBC, Senin (6/1/2014) melaporkan, suhu di beberapa wilayah Amerika Serikat mencapai titik ekstrem. Perlu diingat, bahwa titik beku air adalah 0 derajat celsius. Bisa dibayangkan, ketika sebuah polar vortex mampu membuat suhu mencapai minus 50 derajat celsius.

 Pemanasan Global

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Edvin Aldrian mengungkapkan, polar vortex yang menyerang Amerika Serikat tersebut terbentuk di kutub utara di Kanada. Aliran udara dingin yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam ini sebenarnya hanya terkonsentrasi di wilayah kutub. Tetapi saat melemah atau karena perbedaan suhu dan tekanan dengan wilayah di lintang lebih rendah, polar vortex bisa menjalar lebih ke selatan.

Penjalaran hingga wilayah yang jauh ke selatan ini merupakan kontribusi pemanasan global. ‘’Pemanasan global menyebabkan temperatur di wilayah tropis lebih tinggi. Temperatur lebih tinggi berarti tekanan lebih rendah. Udara bergerak dari tekanan tinggi ke rendah,’’ ungkap Edvin.

Pemanasan global juga membuat perbedaan suhu dan tekanan lebih besar, sehingga polar vortex berdampak pada wilayah yang jauh lebih ke selatan dari sebelumnya.

Selain memanaskan wilayah tropis, pemanasan global juga memanaskan wilayah Arktik, membuat banyak es mencair. Pemanasan di wilayah Artik memungkinkan semakin seringnya sistem polar vortex menjadi tidak stabil, hingga akhirnya menjalar ke luar kutub.

Menurut Edvin, peristiwa tersebut juga mengurangi dampak seruak dingin dari Siberia ke arah katulistiwa. Bagi Indonesia, seruak dingin tersebut bisa berdampak pada peningkatan curah hujan dan risiko banjir.

Tetapi bukan itu masalahnya. Banjir di Indonesia bukan semata-mata disebabkan oleh curah hujan. Beberapa faktor lain yang sering menyebabkan bencana ini, antara lain perubahan land use, pembuangan sampah sembarangan, erosi, dan sedimentasi, kawasan kumuh di sepanjang sungai dan drainase, serta pengaruh pasang air laut dan penurunan tanah.

Dari dua peristiwa, yakni Yolanda dan musim dingin ekstrem di Amerika Serikat, kita harus mengakui bahwa pemanasan global telah mewujud menjadi ancaman nyata. Setelah Filipina dan Amerika Serikat, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Di sisi lain, seperti disampaikan WWF Indonesia, Indonesia merupakan paru-paru dunia. Indonesia memiliki hutan seluas 99,6 juta hektare atau 52,3% luas wilayah Indonesia (data : Buku Statistik Kehutanan Indonesia Kemenhut 2011 yang dipublikasi pada bulan Juli 2012). Tetapi hijau alam Indonesia ini makin menyusut akibat perubahan tata guna lahan secara tak terkendali. Laju deforestasi hutan Indonesia mencapai 610.375,92 Ha per tahun (2011) dan tercatat sebagai tiga terbesar di dunia.

Karena itu, menyelamatkan hutan Indonesia menjadi sesuatu yang penting. Hal itu karena hutan memiliki banyak fungsi penting bagi kehidupan manusia. Kawasan hutan merupakan tempat penyimpanan air hujan secara alami. Keberadaan hutan yang masih baik, dapat mencegah banjir, erosi, dan kekeringan.

Beragam tanaman di hutan, juga menjadi penyerap karbon, yang merupakan salah satu unsur gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Tanaman-tanaman itu, dalam proses fotosintesis juga mengeluarkan oksigen yang sangat berguna bagi manusia dan berbagai mahluk hidup lain.

Selain menjaga kelestarian hutan, kita tentu juga perlu menghijaukan lingkungan, menghemat energi, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan mengelola sampah. Sudah saatnya, “kehidupan hijau” menjadi salah satu materi yang diajarkan di sekolah-sekolah, bukan hanya dalam tataran teoritis, tetapi juga praktis. (Purwoko-dari berbagai sumber)

Menikmati Keindahan Jogan dan Siung

GambarGambarGambarGambar

HUJAN rintik-rintik masih terus membasahi bumi, ketika saya dan Eduard Febriansyah, anak semata wayangku sampai ke Kabupaten Gunungkidul, Senin 23 Desember 2013 lalu. Tetapi demi mengejar waktu, kami terus berkendara ke arah selatan, menuju ke sebuah air terjun di tepi pantai, di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, atau sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta.

Setelah memasuki kawasan pantai-pantai di Gunungkidul, sepeda motor yang kami kendarai memang tak bisa melaju cepat. Selain karena jalan licin, rute di kawasan perbukitan kapur tersebut memang naik turun. Bahkan kami harus berkali-kali memperlambat laju kendaraan, karena berpapasan dengan bus pengangkut wisatawan.

Beberapa saat sebelum memasuki kawasan Pantai Siung, di sebelah kiri jalan terdapat papan petunjuk kecil dari kayu bertuliskan “Pantai Jogan”. Di dekatnya terdapat jalan menurun yang belum beraspal. Penduduk setempat hanya membangun jalan dari semen di kedua sisi jalan itu.

Tak jelas, mengapa tempat yang terletak di garis lintang : 8°10’49.02″S dan garis bujur : 110°40’34.92″T itu dinamai Pantai Jogan. Mungkin karena air terjun tersebut langsung jatuh ke lantai (jogan) lautan kidul.

Setelah memarkir sepeda motor, kami memang langsung disuguhi suara deburan ombak Samudera Indonesia yang terkenal garang. Di dekat tempat itu, terdapat sungai kecil dengan muara berupa air terjun yang langsung jatuh ke laut. Sementara di sekitarnya, terdapat tebing-tebing karang runcing, yang tingginya puluhan meter dari permukaan air.

Pemandangan tersebut sungguh berbeda dengan pantai-pantai di sebelah utara Pulau Jawa. Tumbukan lempeng Indoaustralia dan Euroasia yang terus menerus terjadi, bukan hanya menyebabkan kawasan ini rawan gempa dan tsunami, tetapi juga menghadirkan pemandangan alam yang indah.

Tumbukan lempeng secara terus menerus tersebut, membuat sisi selatan Pulau Jawa terus terangkat. Karang-karang yang jutaan tahun silam berada di dalam laut pun terangkat menjadi perbukitan kapur Gunungkidul. Kini jejak-jejak pengangkatan daratan tersebut, hadir dalam bentuk perbukitan karang di Pantai Jogan.

Melihat semua kebesaran Tuhan itu, rasa lelah yang kami rasakan setelah menempuh perjalanan selama enam jam dari Kota Semarang pun seakan hilang. Agar tak sia-sia, kami mencoba mengabadikan pemandangan itu.
Demi mendapat angle atau sudut pengambilan gambar yang lumayan, kami harus naik ke tepi tebing, persis di atas jurang. Dengan berpijak pada tepi karang, Eduard berusaha tampil keren.

Sayang, kami hanya bisa memotret menggunakan kamera HP Nokia Asha 200. Walaupun sudah cukup lumayan untuk di-upload di media sosial, tetapi hasilnya masih kalah jauh dibanding menggunakan SLR.

Pantai Siung

Puas menikmati karang-karang terjal, kami kemudian mendatangi Pantai Siung, di sebelah utara Pantai Jogan. Memasuki kawasan pantai, kami melihat banyak bus dan mobil dari berbagai kota di Jawa terparkir rapi di tepi pantai.
Sementara para pengunjungnya, banyak yang bermain di tepi pantai berpasir putih itu. Dari kejauhan, nampak karang-karang raksasa berdiri kokoh, walaupun terus menerus diterpa ombak.

Ketika air laut surut, para wisatawan memang bisa berjalan sampai di bawah karang-karang raksasa itu. Pada saat itu pula, para pecinta panjat tebing bisa menikmati tantangan mendaki karang, sambil menikmati keindahan pemandangan deburan ombak.

Sementara bagi wisatawan yang hanya ingin menikmati pemandangan, mereka bisa menyewa tikar sambil duduk-duduk di tepi pantai.
Sayang, semua itu tak bisa dinikmati ketika ombak besar dan laut pasang. Itu karena pada saat itu, air laut telah menggenangi sekitar karang-karang raksasa tersebut. Bagi orang yang bisa berenang pun, bermain air terlalu ke tengah adalah sangat berbahaya. Ombak yang besar, dapat sewaktu-waktu menghempas dan menyeret kita ke tengah laut.

Walaupun demikian, pengunjung dapat mengabadikan pemandangan tersebut dengan kamera. Melalui keindahan panorama alam tersebut, kita bisa terus mengingat kebesaran Tuhan yang telah menciptakan semua itu. (Purwoko-)

Bumi Makin Panas, Mari Beradaptasi

PEMANASAN global, saat ini telah menjadi sebuah ancaman serius bagi kelangsungan hidup manusia di bumi. Hal ini, walaupun dapat muncul secara alami, misalnya akibat letusan gunung berapi dan ledakan supernova (sinar Matahari), namun peran manusia ternyata lebih besar.

Dengan pertumbuhan penduduk bumi, kebutuhan akan sarana transportasi, industri, produksi sampah, dan pembakaran stasioner seperti pembangkit listrik yang menggunakan gas, minyak bumi, dan batu bara juga akan meningkat. Masalah tersebut masih ditambah dengan adanya kebakaran hutan karena penyebab alami, atau kesengajaan manusia untuk memperluas lahan perkebunan.

Semua itu menimbulkan pencemaran udara oleh gas-gas rumah kaca, antara lain Karbon monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOX), Belerang oksida (SOX), Hidrokarbon, dan partikel lain.

Wisnu (2010) juga mengemukakan data, bahwa transportasi ternyata menyumbang gas pencemar terbanyak ke atmosfer, disusul pembakaran stasioner termasuk pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak bumi dan batubara, dan indutri.

Sumber Pencemar

(juta ton per tahun)

Jumlah
Transportasi 90,5
Pembakaran Stasioner 45,9
Industri 29,3
Pembuangan Sampah 11,2
Lain-lain 37,3

Sumber : Wisnu (2010)

Lalu bagaimana semua gas itu kemudian berperan dalam “memanggang” bumi. Setiap hari, Matahari memancarkan sinarnya ke permukaan bumi. Radiasi ini bukan hanya memberikan terang, tetapi juga panas. Sebagian panas itu kemudian kembali ke angkasa luar. Proses ini membuat Bumi menjadi tidak terlalu “dingin”, tetapi juga tidak terlalu “panas”, sehingga dapat menjadi rumah bagi manusia sejak 63 juta tahun silam.

Tetapi akibat gas-gas rumah kaca, banyak panas matahari yang seharusnya kembali ke angkasa luar, terjebak di atmosfer. Hal inilah yang membuat bumi menjadi makin panas dan pelelehan es di kutub terjadi lebih cepat.

Image

Image by administrator

National Geographic, Sabtu (09/11) lalu memuat artikel, bahwa es di Kutub Utara dan Selatan mencakup 10 persen dari permukaan Bumi. Jika semua es yang diperkirakan mencapai 5 miliar kubik ini meleleh, maka Indonesia akan lebih bersih.

Tetapi kata “bersih” kali ini, bukan dalam konteks positif. Bukan seperti bahwa orang yang biasa hidup bersih akan lebih sehat. Bukan pula bersih dalam arti tidak ada sampah berserakan. “Bersih” dalam hal ini karena banyak pulau-pulau di negeri ini akan hilang. Bahkan, gunung-gunung yang semula selalu menampakkan keagungannya, akan berubah menjadi lebih pendek, sehingga nampak sebagai pulau-pulau.

Lalu bagaimana dengan manusia ? Persoalan utama dari pemanasan global ini, sebenarnya bukan hanya hilangnya pulau-pulau. Jika semakin banyak es mencair, maka makin banyak pula air tawar yang akan masuk ke laut dan hal ini dapat mempengaruhi arus laut. Padahal sabuk raksasa ini, berperan besar dalam mempengaruhi cuaca dan iklim. Umat manusia bukan hanya akan menghadapi kekacauan musim, tetapi juga cuaca ektrem, badai yang makin besar, banjir, dan longsor. Belum lagi penyakit yang kian mengganas, krisis air bersih, dan konflik antarmanusia. Ini semua bisa menjadi “kiamat” bagi umat manusia.

Sedemikian besar ancaman tersebut, sehingga manusia harus bertindak untuk menyelamatkan diri mereka, baik dalam skala global, nasional, maupun keluarga dan individu.

 Preventif

Image

Puslitbang Permukiman Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam “Fenomena Gas Rumah Kaca” mengemukakan beberapa upaya, baik preventif maupun adaptasi.

Upaya preventif diarahkan untuk pengurangan emisi gas-gas rumah kaca, seperti penerapan konsep tata ruang terpadu, penyediaan ruang terbuka hijau, dan penggunaan material konstruksi yang ramah lingkungan.

Adapun upaya adaptasi, dapat dilakukan dengan pembangunan kawasan rumah terapung. Kawasan ini dilengkapi dengan sanitasi dan pengelolaan sampah untuk kawasan pasang surut.

Penataan ruang secara terpadu, diperlukan bukan hanya untuk membagi wilayah menjadi zona-zona, melainkan juga memperhatikan kemampuan wilayah untuk menopang kehidupan penduduknya.

Karena itu, sebuah kota dapat dibagi dalam kawasan lindung dan kawasan budidaya. Adapun untuk kawasan lindung, seperti diatur dalam Kepres No 32 Tahun 1990 adalah:

Kawasan yang dapat memberikan perlindungan pada kawasan lain, misalnya hutan lindung dan daerah resapan air.

  • Kawasan perlindungan setempat, misalnya sempadan sungai, kawasan sekitar danau, dan kawasan sekitar mata air.
  • Kawasan suaka alam dan cagar budaya.
  • Kawasan rawan bencana alam
  • Kawasan lindung khusus, misalnya untuk kepentingan pertahanan negara.

Dalam konteks penyelamatan bumi terhadap pemanasan global, kawasan lindung ini menjadi sangat penting, karena berkaitan dengan penyediaan kawasan hijau. Dari kawasan seperti ini, oksigen banyak dihasilkan dan zat-zat pencemar seperti karbon dapat diserap.

Karena itu, kawasan lindung, sesuai namanya mestinya benar-benar dilindungi dari perubahan fungsi. Pemerintah umumnya melakukan hal ini dengan menyusun peraturan tata ruang kota. Tetapi peraturan ini tak banyak berarti, tanpa kebijakan pemberian izin yang tepat. Jika suatu daerah memang telah diatur sebagai kawasan lindung, maka segala bentuk pembangunan yang bertentangan dengan fungsi ini mestinya dilarang. Bahkan harus ada keberanian dalam penegakan hukum, yaitu dengan membongkar bangunan-bangunan yang bertentangan dengan aturan ini.

Selain kawasan lindung, ada pula kawasan budidaya yang merupakan wilayah untuk permukiman, perkantoran, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi. Khusus untuk permukiman, hunian vertikal saat ini perlu dikembangkan agar penggunaan lahan bisa lebih efisien.

Hunian vertikal, baik apartemen maupun rumah susun dapat mengurangi banyak lahan untuk pemukiman. Sebagai gambaran, sebuah kompleks rumah susun di lahan seluas 1,3 hektare, dapat terdiri atas 800 hingga 1.000 unit hunian. Hal itu belum termasuk kios dan tempat usaha lainnya.

Sekarang bandingkan dengan konsep hunian horisontal dengan tipe rumah 27. Jika setiap rumah membutuhkan lahan 5 x 12 meter, maka untuk membangun 800 rumah diperlukan 4,8 hektare, belum termasuk jalan dan fasilitas lainnya.

Kawasan ini perlu ditata dan dilengkapi sarana dan prasarana transportasi massal yang murah, mudah, dan nyaman. Dengan demikian, tidak banyak penduduk yang membutuhkan kendaraan pribadi untuk bepergian setiap hari. Mengurangi operasional kendaraan pribadi, berarti pula mengurangi gas-gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Kawasan budidaya juga perlu memiliki ruang-ruang terbuka hijau, baik yang disediakan oleh pemerintah maupun menyatu dengan bangunan-bangunan milik masyarakat.

Bentuknya bisa berupa taman kota, taman pada gedung-gedung perkantoran, rumah-rumah pribadi, dan perumahan. Upaya ini agar ketentuan dalam ayat 2 Pasal 29 UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dapat terpenuhi. Dalam peraturan itu diamanatkan, proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota, paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota tersebut. Dengan penataan seperti ini, sebuah kota sudah dapat mengurangi mereduksi zat-zat pencemar udara dan berperan dalam menanggulangi pemanasan global.  (Purwoko Adi Seno)