Banjir Kali Tenggang Tak Kunjung Usai

Perlu Penanganan Menyeluruh

Sistem Drainase Kali TenggangMEMASUKI 2014, hujan kembali mengguyur Kota Semarang. Polar Vortex yang menerjang Amerika Serikat, memang menyebabkan hujan di Indonesia tidak menjadi terlalu ekstrem. Walau demikian, di Kota Semarang, banjir terjadi di mana-mana.

Semarang memang terkenal sebagai kota banjir. Bahkan kondisi ini juga disebut dalam sebuah lagu Jawa ciptaan Anjarany. Lagu bertajuk Jangkrik Genggong ini dipopulerkan oleh Waljinah.

‘’Semarang kaline banjir

Jo semelang rak dipikir

Jangkrik upo sobo ning tonggo

Melumpat ning tengah jogan’’

Demikian petikan lagu tersebut. Tetapi bagi orang Semarang, banjir di kotanya itu memang membuat semelang (khawatir) dan terpaksa dipikir. Bagaimana tidak, banjir sudah sangat mengganggu kehidupan.

Banjir pada awal Januari 2014 menyebabkan genangan sedalam 30 – 40 centimeter di beberapa lokasi. Beberapa lokasi yang cukup parah, antara lain kawasan Tlogosari, Muktiharjo, dan Jalan Kaligawe. Bencana itu juga memaksa SD Muktiharjo Kidul meliburkan para siswanya.

Banjir di kawasan ini merupakan akibat kondisi Kali Tenggang yang buruk. Hulu drainse ini berada di kawasan Pedurungan, melalu depan Swalayan Ada dan sebagian berbelok ke arah utara melalui Perumahan Tlogosari. Kali Tenggang, juga menjadi batas perumahan ini dengan Kampung Bugen.

Pendangkalan

Di wilayah-wilayah itulah Kali Tenggang mengalami pendangkalan serius. Di beberapa bagian bahkan nampak “pulau-pulau” di tengah saluran. Tetapi untuk membersihkan endapan / sedimen tersebut juga tidak mudah. Banyak dinding belakang rumah warga yang mepet ke sungai. Selain itu, mendekati muara, persoalan Kali Tenggang juga bertambah akibat adanya penurunan tanah. Bahkan untuk Kampung Tenggang, sebagian wilayahnya sudah berada di bawah permukaan air laut ketika pasang.

Karena itu, upaya untuk menyelesaikan persoalan banjir tersebut tidak cukup dengan meninggikan jalan. Pemerintah perlu menerapkan one river, one plan, one management, atau dengan kata lain melakukan penanganan secara menyeluruh.

Secara teknis, badan-badan sungai tersebut perlu dikeruk dari hulu ke hilir. Selain itu di bagian muara perlu dibangun sistem polder. Jalan arteri Yos Sudarso sebenarnya dapat digunakan sebagai badan tanggul untuk menghalangi air laut masuk. Pada mulut sungai di bawah jalan itu, perlu dilengkapi pintu air. Selain itu, bagian sungai di tempat itu perlu dikeruk lebih dalam dan difungsikan sebagai long storage. Air dari kolam tersebut kemudian dibuang ke laut menggunakan pompa.

Tentu saja, upaya teknis ini perlu mendapat dukungan semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Kota Semarang harus berani menegakkan aturan, untuk membersihkan bantaran sungai tersebut dari bangunan. Hal ini juga harus mendapat dukungan dari masyarakat. Para pelanggar aturan tentang sungai, tidak boleh bersikukuh untuk tinggal di bantaran. Dengan kata lain, kalau memang diperlukan, mereka harus pindah, walaupun tanpa ganti rugi.

Mereka sebenarnya tidak layak memperoleh ganti rugi. Hal itu karena perbuatan mereka mendirikan bangunan di bantaran sungai dan menghambat upaya normalisasi, kenyataannya telah merugikan banyak pihak. (Purwoko)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s