Gempa Akibat Sesar Tak Hanya di Aceh

GEMPA 6,2 SR mengguncang Provinsi Aceh, Selasa, 2 Juli 2013 silam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut daya rusak gempa tersebut 6 MMI, tetapi menurut USGS sebesar 7,4 MMI. Bangunan yang tidak dibangun dengan konstruksi tahan gempa pun banyak yang roboh.
Korban pun berjatuhan, kebanyakan akibat tertimpa bangunan. Antara (http://www.antaranews.com), memberitakan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 9 Juli 2013, jumlah korban tewas mencapai 39 orang dan 52.113 jiwa atau 12.301 keluarga mengungsi. Selain itu 16.019 unit rumah rusak. Angka tersebut terdiri atas 6.178 rumah rusak berat, 3.061 rumah rusak sedang, dan 6.780 rumah rusak ringan. Sebanyak 626 unit bangunan fasilitas umum juga rusak. Jumlah tersebut meliputi puskesmas dan bangunan layanan kesehatan lainnya 50 unit, masjid atau mushala 148 unit, sekolah 313 unit, meunasah 21 unit, kantor 77 unit, dan rumah dinas dokter atau paramedis 17 unit. Gempa juga mengakibatkan sebagian wilayah dari dua desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah longsor ke Sungai Peusangan.
Belum selesai hiruk pikuk akibat gempa Aceh, gempa berkekuatan 5,9 SR kembali mengguncang Indonesia. Gempa dengan episentrum di tenggara Malang, Jawa Timur yang terjadi Senin 8 Juli 2013 pukul 09.13 WIB tersebut, mengakibatkan banyak bangunan rusak parah. Seperti diberitakan Okezone.com, berdasarkan data BNPB hingga 10 Juli 2013 siang, bencana tersebut menyebabkan 124 rumah rusak. Dari jumlah itu, 11 rumah rusak berat, 18 rumah rusak sedang, dan 95 rumah rusak ringan di lima kecamatan.
Lima kecamatan yang mengalami dampak gempa adalah, Dampit, Ampel Gading, Tirto Mulyo, Gedangan dan Sumber Manjing Wetan. Seorang warga mengalami patah tulang akibat panik dan berlari hingga terjatuh.
Bagi Indonesia, gempa Aceh bukan satu-satunya gempa mematikan yang pernah terjadi. Bangsa ini, terutama warga Yogyakarta dan Jawa Tengah masih belum dapat melupakan peristwa gempa 27 Mei 2006 silam. Gempa berkekuatan 5,9 SR (versi BMKG) atau 6,2 SR (versi United States Geological Survey – USGS) itu, meluluhlantakkan berbagai daerah, terutama Bantul, DIY dan Klaten Jawa Tengah.
Menurut data Media Center Gempa DIY yang dirangkum Akhmad Muktaf Haifani dari Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Keselamatan, Instalasi dan Bahan Nuklir, Bapeten jumlah korban tewas di DIY dan Jateng adalah 5.743 orang. Selain itu, sebanyak 38.423 orang luka-luka (data 12 Juni 2005, jam 18.00 WIB). Data tersebut dia kemukakan dalam Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir di Yogyakarta, 25-26 Agustus 2008.
Adapun menurut Wikipedia, gempa tersebut menyebabkan 5.782 orang tewas, 36.299 orang terluka, dan 135.000 rumah rusak. Diperkirakan 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal.
Walaupun secara geografi berbeda, tetapi ada benang merah dari kedua peristiwa tersebut, yakni kedua gempa tersebut terjadi di atas sesar di daratan. Gempa Aceh terjadi di atas patahan aktif sepanjang 1.900 km, dari Aceh hingga Lampung, yang disebut Sesar Semangko.
Adapun gempa Yogyakarta, terjadi di atas Sesar Opak yang memanjang dari selatan Yogyakarta hingga Prambanan. Dalam blog “Dongeng Geologi” milik Rovicky Dwi Putrohari (Ketua IAGI Periode 2012-2014), http://rovicky.wordpress.com/, digambarkan terdapat sesar yang saling menyambung dari Opak menuju Merapi dan terus ke arah Semarang. Pergerakan sesar ini pula yang menyebabkan gempa kala itu menyebabkan kerusakan parah di Klaten dan Prambanan. Bahkan, batu-batu Candi Prambanan berjatuhan kala itu.
Di Sumatera dan Jawa, bukan hanya sesar-sesar itu yang patut untuk diwaspadai. Masih menurut Rovicky, di Cilacap ke arah Pamanukan juga terdapat sesar aktif yang dapat menyebabkan gempa.
sesar gempa merusak di Jawa
Pergerakan sesar-sesar tersebut, menurut dia juga menimbulkan beberapa gempa. Seperti misalnya pada 1840, di Purworejo pernah terjadi gempa dengan skala 7 – 9 MMI, di Kebumen pada 1852 dengan skala 6 – 7 MMI, dan di Banyumas 7 MMI pada 1863.
Selain itu, di Pulau Jawa juga terdapat puluhan hingga ratusan sesar kecil. Sebagian memang tidak aktif. Tetapi banyak pula yang dapat setiap saat bergeser dan menyebabkan gempa bumi.
Gempa di Jawa, baik akibat pergerakan lempeng Indoaustralia – Eurasia, maupun pergerakan patahan sudah berkali-kali terjadi. Bahkan, kawasan-kawasan yang selama ini dianggap aman, seperti Semarang juga tak luput dari ancaman ini.
Berdasarkan data USGS, gempa-gempa menengah pernah terjadi di bagian utara Jawa, seperti di Kota Semarang, Kendal, dan Demak. Pada 2 Oktober 1995, di daerah Boja, kebupaten Kendal pernah terjadi gempa berkekuatan 4,1 SR. Sebelumnya, pada 12 September 1986, terjadi pula gempa 4,8 SR di wilayah perbatasan Semarang – Kendal. Pada 1968, gempa 5,4 SR juga pernah mengguncang wilayah Demak. Dua tahun sebelumnya, yakni pada 26 Januari 1966, gempa berkekuatan 5 SR juga terjadi, dengan episentrum di sekitar Watugong.

Sekilas, gempa-gempa tersebut berkekuatan kecil. Namun bukan berarti kawasan ini 100 % aman dari gempa besar. Dalam Suara Merdeka, Kamis, 24 Mei 2007, Pakar Gempa Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja mengatakan bahwa sesar aktif Semarang – Brebes sepanjang 30 km – 40 km, pada sekitar tahun 1800-an pernah menyebabkan gempa hingga 7 pada SR.
San Andreas
Ancaman gempa akibat pergerakan sesar, sebenarnya bukan hanya ada di Indonesia. Di Amerika, terdapat sebuah patahan yang sangat terkenal, bernama San Andreas. Patahan sepanjang lebih kurang 1.300 km di California ini, membentuk batas tektonik antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara.
Pada Rabu, 18 April 1906, patahan ini bergerak dan menyebabkan gempa dahsyat di San Francisco, California dan pantai California Utara. Gempa yang diperkirakan berkekuatan 7,7 sampai 8,25 MW tersebut, mengakibatkan kematian sekitar 3.000 orang, sebagian akibat kebakaran (Wikipedia).
Setelah gempa Aceh 2 Juli 2013 silam dan Malang, BMKG mengeluarkan peringatan agar seluruh penduduk dan pemerintah mewaspadai gempa besar. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Prih Harjadi di Jakarta, Rabu (10/7/2013) mengatakan lokasi yang diprediksi bakal terjadi gempa besar hingga 8 SR adalah barat Daya Mentawai, Barat Daya Selat Sunda, dan Selatan Bali.
Perkiraan tersebut didasarkan pada data, bahwa tiga tempat itulah yang belum terjadi gempa. Artinya masih tersimpan tenaga yang besar di ketiga titik tersebut.
Khusus untuk Mentawai, memang sudah pernah terjadi gempa hingga 7,7 SR. Tetapi di kawasan tersebut, diperkirakan juga masih tersimpan tenaga yang besar dan siap untuk dilepaskan. Dengan adanya gempa-gempa dan peringatan seperti ini, sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat waspada. (*)

One thought on “Gempa Akibat Sesar Tak Hanya di Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s