Tuhan Menciptakan Keseimbangan

BENCANA sudah mulai lagi melanda berbagai daerah di Indonesia. Jakarta misalnya, walaupun sebagai ibu kota negara, wilayah ini tetap tidak bisa lepas dari banjir yang terjadi setiap kali kawasan Jabodetabek diguyur hujan deras.

Sebelumnya, air juga menggenangi kabupaten Cilacap dan Banyumas. Penulis memperkirakan, pertengahan Oktober nanti Semarang juga akan mendapat giliran dilanda banjir. Demikian pula daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Orang kerap menyalahkan hujan sebagai penyebab banjir. Padahal penyebab banjir paling dominan sebenarnya adalah perubahan tata guna lahan, dari yang semula tertutup vegetasi menjadi kawasan perumahan dan industri, serta infrastruktur lain.

Perubahan tersebut menggambarkan bahwa kita lupa bahwa spesies yang disebut Homo sapiens ini hidup dan merupakan bagian dari alam. Sedangkan alam, diciptakan Tuhan dengan memasukkan hukum-hukum keseimbangan.

Sebagai contoh, pada alam yang masih asli, hujan yang turun di perbukitan atau pegunungan tak akan langsung mengalir menuju ke sungai-sungai. Itu karena air hujan terlebih dulu menimpa dedaunan. Jika dedaunan itu sudah jenuh air, air pun sebagian mengalir ke tanah, di mana di permukaan tanah juga terdapat tanaman yang merambat. Semua tenaman itu memberikan kesempatan pada tanah untuk menyerap air, sehingga tidak semuanya langsung mengalir ke sungai.

Kebutuhan ruang untuk permukiman, industri, dan infrastruktur lainnya menyebabkan orang mengorbankan hutan dan kawasan hijau. Hal itu mengakibatkan kenaikan debit air yang masuk ke sungai-sungai bisa mencapai 25 kalinya. Jika kapasitas sungai tetap (atau justru berkurang akibat tingginya sedimentasi), maka perpaduan kedua faktor tersebut tentu akan meningkatkan risiko banjir.

Hilangnya hutan, juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat pemanasan global. Saat lapisan-lapisan es di kutub dan pegunungan tinggi mencair, jumlah air tawar yang masuk ke samudra juga akan bertambah.

Ini bisa mempengaruhi kadar garam di laut, yang pada gilirannya akan mempengaruhi arus laut. Padahal arus laut tersebut sangat berhubungan dengan transfer suhu di laut, di mana suhu muka laut sangat mempengaruhi cuaca.

Persoalan suhu muka air laut itu pula yang menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia tetap diguyur hujan di musim kemarau. Jika hujan semakin sering mengguyur, maka ancaman banjir, longsor, dan puting beliung juga meningkat.

Peningkatan volume air laut juga akan menenggelamkan pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir pulau-pulau besar. Berat yang bertambah akibat penambahan volume tersebut juga akan memengaruhi pergerakan lempeng bumi. Itu pula yang menyebabkan ancaman gempa dan tsunami menjadi semakin besar.

Kesimpulan dari semua itu, ketika manusia mengganggu keseimbangan alam. Alam akan berupaya mengembalikan posisi keseimbangan itu dengan banjir, longsor, gempa, tsunami, dan puting beliung. Dengan kata lain, berbagai peristiwa alam itu merupakan upaya alam untuk menuju keseimbangan baru, termasuk mungkin mengurangi populasi manusia. Lalu…., kapankah manusia menyadari semua ini ?. (Purwoko)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s