Gustav, Sebuah Catatan

SEBUAH badai yang hebat bernama Gustav, Selasa, 2 September 2008 lalu mulai menyerang daratan Amerika Serikat, masuk dari Cocodrie, 130 kilometer bagian barat daya New Orleans, Lousiana pukul 9.30 waktu setempat.

Meski kekuatannya dilaporkan menurun, hanya 2 dari skala 1-5, badai tersebut menyebabkan gelombang tinggi yang memicu banjir dan putusnya jaringan listrik di seluruh kota tersebut.

Kota yang permukaannya rendah tersebut terancam banjir bandang jika tanggul penahan yang dibangun di sekeliling kota jebol. Gelombang pasang melebihi tinggi tanggul dan telah meluap ke dalam kota.

Sebelumnya, ratusan warga negara Indonesia di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat (AS) telah mengungsi keluar dari kota tersebut. Mereka merupakan bagian dari ribuan warga yang sejak Sabtu (30/8) telah meninggakan New Orleans.

Konsul Jenderal RI di Houston, Kria Fahmi Pasaribu, Minggu (31/8), mengatakan para warga Indonesia itu telah menyebar ke berbagai wilayah, yaitu ke Houston, Oklahoma, Tennessee, North Carolina. “Ada juga yang tidak keluar dari Lousiana, tapi mereka telah mengungsi ke tempat-tempat yang aman,” kata Fahmi.

Menurut Konjen RI itu, total warga negara Indonesia yang tinggal di New Orleans berjumlah sekitar 100 orang. ‘’Jumlah tersebut adalah mereka yang pernah melakukan lapor diri. Mungkin saja jumlahnya lebih dari 100 mengingat kadang-kadang ada juga warga kita yang tidak pernah lapor diri,’’ ujarnya.

Hingga Minggu, seperti diungkapkan Fahmi, warga Indonesia yang mengungsi ke Houston berjumlah sekitar 15 orang.  Mereka menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari New Orleans, lebih lama dari waktu-waktu normal, yang biasanya hanya sekitar lima  jam. Jumlah warga Indonesia yang berada di Florida diperkirakan mencapai 2.000 orang.

Bencana tersebut tentu telah membuat jutaan orang menderita. Namun bencana-bencana semacam itu memang hanya ada di wilayah-wilayah yang jauh dari Katulistiwa.

Gaya Corioli atau gaya perputaran bumi, menyebabkan wilayah-wilayah katulistiwa –termasuk Indonesia-  tidak akan pernah secara langsung dihantam badai semacam itu. Kalaupun ada, aníllala berupa angin puting beliung atau hujan lebat.

Di satu sisi kita prihatin terhadap penderitaan warga Amerika Serikat. Namun di sisi lain kita bersyukur, bahwa bencana mengerikan semacam topan Gustav tak akan pernah mampir ke Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s