Sudahkan Kita Merdeka ?

KEMERDEKAAN adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Itulah sepenggal kutipan dalam pembukaan UUD 1945.
Hari ini, bangsa Indonesia untuk Ke-63 kalinya memperingati kemerdekaannya. Di berbagai tempat, mulai dari pusat pemerintahan di Jakarta hingga ke pelosok-pelosok kampung pun, diselenggarakan berbagai acara.
Ada yang membuat panggung hiburan. Ada pula yang sekadar kumpul-kumpul sambil menikmati hidangan ala kadarnya. Namun, adakah di antara perayaan-perayaan itu yang diisi dengan renungan.
Ada sebuah pertanyaan yang teramat sederhana, dalam setiap peringatan 17-an. Apakah kita sudah merdeka ?
Pertanyaan itu memang terdengar konyol, apalagi jika dilontarkan dalam sebuah perayaan independence day. Namun jika melihat kondisi bangsa ini, pertanyaan semacam itu memang patut dilontarkan.
Tentu bangsa ini belum lupa, bagaimana ibu-ibu kebingungan lantaran harga tempe dan tahu menjadi mahal dan mereka hanya bisa pasrah menerimanya. Penyebabnya, ternyata karena harga kedelai yang jadi bahan baku kedua makanan tersebut kian mahal.
Kasus ini memang sempat mengusik rasa nasionalisme, lantaran kedelai tersebut ternyata harus import dari Amerika. Artinya, tempe yang kerap dianggap makanan kelas bawah itu pun, kini harus dikendalikan oleh bangsa asing.
Selain tempe, bangsa ini juga harus kelabakan lantaran harga BBM yang terus melambung. Lagi-lagi, penyebabnya karena Indonesia yang sebenarnya produsen minyak ini, ternyata tak mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Sementara harga minyak dunia, juga dikendalikan oleh Amerika Serikat melalui bursa New York.
Dalam bidang teknologi informasi, Indonesia juga sangat tergantung pada negeri Paman Sam. Betapa tidak, mesin komputer, terutama prosesornya berasal dari negeri itu. Masyarakat kita, kebanyakan juga menggunakan software-software dari negeri itu, termasuk operating system Microsoft Windows -nya Bill Gate.
Padahal, harga software resmi semacam itu ciukup mahal untuk ukuran Indonesia. Sedangkan kalau menggunakan software bajakan, polisi-polisi sudah siap untuk menggerebek.
Sebenarnya, bangsa ini masih memiliki pilihan lain yakni menggunakan linux. Operating system ini bukan hanya murah, tetapi bisa di-copy dan disebarluaskan secara gratis. Bahkan distro-distro linux saat ini, sudah cukup lengkap dengan memuat software penyusun kata, spread sheet, musik, hingga DVD.
Namun sayangnya, pemerintah tak mau secara gencar mengkampanyekan software murah meriah tersebut. Dalam pelajaran komputer di sekolah-sekolah, materi yang diajarkan pun tetap Microsoft Windows. Dalam hal ini, pemerintah justru mirip tenaga pemasarannya Microsot. Kesan itu menguat, setiap kali Bill Gates datang ke Indonesia. Pada saat itu, sang pemilik Microsoft tersebut selalu diperlakukan bak raja.
Kalau seperti ini jadinya, mungkin dalam waktu yang tak terlalu lama, bangsa ini akan menghadapi sebuah bencana ekonomi. Kalau memang seperti itu jadinya, sudahkah kita merdeka ? (Purwoko Adi Seno)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s