Lagi-lagi Tabung Konversi Minta Korban

TABUNG gas konversi yang diberikan pemerintah, kembali membuat bencana. Setelah di Tambora Jakarta Jumat 11 Juli 2008 lalu, peristiwa serupa terjadi di Kota Semarang. Selasa 12 Agustus 2008 lalu, kebakaran yang diduga akibat ledakan tabung gas konversi, melalap 34 rumah dan 15 lainnya rusak parah. Bangunan-bangunan di Kelurahan Tanjungmas tersebut, sebagian merupakan rumah dinas PT Kereta Api.

Menurut Suara Merdeka (13/8), tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun musibah tersebut mengakibatkan 48 KK yang terdiri atas sedikitnya 220 jiwa kehilangan tempat tinggal. Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Sesaat setelah peristiwa itu, belasan tangki pemadam kebakaran berdatangan ke lokasi. Selain itu, Palang Merah Indonesia Kota Semarang juga segera tiba di lokasi, untuk memberikan pertolongan pada para korban. Saat penulis tiba di lokasi sekitar 5 jam setelah kejadian, terlihat warga masih berusaha mengelola bantuan.

Peristiwa tersebut lagi-lagi mengundang keprihatinan sejumlah pihak. Warga menyayangkan cara pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap minyak tanah, dengan membagikan kompor dan tabung gas yang tidak layak pakai.

Terbukti upaya pemerintah itu, justru menyengsarakan masyarakat. Semestinya, hal ini menjadi perhatian nasional, karena jika dibiarkan akan lebih banyak korban berjatuhan.

Gang Sempit
Lokasi kebakaran di Kelurahan Tanjungmas tersebut juga merupakan permukiman padat, yang sebagian besar dihuni warga kurang mampu. Jalannya pun berupa gang sempit dan tidak bisa dimasuki oleh truk pemadam kebakaran.

Kawasan semacam itu jelas sangat rawan. Saat satu rumah dilalap si jago merah, dengan cepat api akan menjalar ke rumah-rumah lain. Apalagi Keluarahan Tanjungmas relatif dekat dengan pantai, di mana angin bertiup cukup kencang.

Namun sayangnya, Pemkot Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Sukawi Sutarip nyaris tak pernah peduli dengan kondisi tersebut. Pemkot tak pernah melakukan sosialisasi pada mereka, tentang bahaya kebakaran. Warga juga tak pernah dilatih untuk melakukan penanganan awal bahaya tersebut.

Akibatnya, ketika peristiwa semacam itu terjadi warga tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan harta benda yang mereka kumpulkan dari hasil kerja keras. Dari rentetan peristiwa tersebut, pemerintah mestinya bertanggung jawab penuh, bukan hanya dalam masa tindak darurat. tetapi juga memulihkan keadaan hingga bisa kembali seperti semula. (Purwoko Adi Seno)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s