AIDS Sudah Masuk Katagori Bencana

ACQUIRED immune deficiency syndrome (AIDS), kini tak lagi sekadar dianggap sebagai sebuah penyakit, melainkan sudah merupakan bencana jangka panjang. Penyakit itu juga sudah masuk ke dalam laporan bencana 2008 yang dikeluarkan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

Jika dianggap sebagai bencana, maka pemerintah di negara-negara dengan angka HIV/AIDS tinggi bisa memproduksi sendiri obat ARV, tanpa harus terikat hukum hak patent. Dengan demikian kelangkaan obat ARV yang terjadi beberapa waktu lalu, tak terjadi lagi.
Selain itu diperlukan inisiatif dari penyedia layanan kesehatan untuk menerapkan tes HIV, tanpa memerlukan konseling.

Seperti ditulis Kompas Selasa 29 Juli 2008 lalu, Badan PBB dalam bidang penanganan HIV/AIDS (UNAIDS) mengemukakan, setiap hari hampir 7.000 orang terjangkit penyakit ini. Jika tidak ada penanganan, AIDS akan menulari jutaan orang lainnya. Sejak tahun 1981, lebih dari 25 juta orang meninggal akibat AIDS, sementara 33 juta lainnya hidup dengan HIV.

Kumpulan
Menurut Fazidah A Siregar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, AIDS merupakan suatu syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh.

Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal, yang dikenal dengan infeksi oportunistik. Kasus AIDS pertama kali ditemukan oleh Gottlieb di Amerika Serikat pada tahun 1981 dan virusnya ditemukan oleh Luc Montagnier pada tahun 1983.

Penyakit AIDS dewasa ini telah terjangkit dihampir setiap negara didunia (pandemi), termasuk di antaranya Indonesia.

Menurut data Ditjen PP & PL Depkes RI 8 Januari 2007, jumlah pengidap HIV selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1987 atau enam tahun setelah virus itu ditemukan di Amerika, jumlah pengidap HIV di Indonesia 4 orang dan penderita AIDS 5 orang. Pada tahun 1996, jumlah pengidap HIV menjadi 105 orang dan AIDS 42 orang. Pada tahun 2006, jumlah pengidap HIV menjadi 986 dan pewnderita AIDS 2.873 orang.

Persoalannya menjadi kian rumit, karena angka-angka tersebut tidak menunjukkan kenyataan sesungguhnya. Dalam persoalan HIV/AIDS terdapat fenomena “gunung es”, yakni jumlah sesungguhnya jauh lebih banyak dibanding yang terdata.

Hal ini karena masa inkubasi yang cukup lama, yakni sekitar 12 tahun. Masa inkubasi adalah waktu sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dia menunjukkan gejala-gejala AIDS.

Selama fase ini terdapat window period (periode jendela) selama tiga bulan. Periode tersebut adalah masa sejak orang terpapar HIV hingga virus tersebut bisa dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Pada masa itu, seseorang sudah bisa menularkan HIV. Pada masa inkubasi inilah, penularan biasanya terjadi secara tidak sengaja.

Diskriminasi
Ancaman AIDS yang sudah sedemikian besar, ternyata tak diimbangi dengan penyebaran informasi yang benar dan terus menerus. Pengetahuan yang hanya setengah-setengah tentang penyakit ini, justru hanya menimbulkan ketakutan tak yang tidak logis. Salah satu akibatnya adalah munculnya persepsi bahwa penderita adalah pembawa malapetaka.

AIDS juga sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menghinggapi pekerja seks, kaum homoseks, dan pecandu narkoba. Hal ini pula yang membuat para penderita HIV/AIDS mendapat cap buruk dari masyarakatnya.

Padahal, bisa saja AIDS tersebut diderita oleh seorang ibu yang tertular dari suaminya. Suami mungkin saja lelaki hidung belang atau pecandu narkoba. Namun istri yang ditularinya, belum tentu juga merupakan penganut seks bebas dan pecandu narkoba.

Perlakuan buruk pada orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA), justru akan menimbulkan persoalan yang lebih rumit. Diskriminasi menimbulkan ketakutan – terutama pada golongan risiko tinggi – untuk memeriksakan diri.

Padahal jika orang tersebut sudah tertular, dia sangat mungkin menularkan penyakit tersebut kepada orang lain. Demikian seterusnya, hingga makin banyak orang yang terkena.

Karena itulah salah satu peran masyarakat yang bisa dilakukan dalam upaya memerangi AIDS, justru memberikan kasih sayang pada para penderitanya. Mereka harus dilihat sebagai korban, sama dengan korban-korban bencana lainnya. (Purwoko Adi Seno)

Sumber:
1. Pengenalan dan Pencegahan AIDS, Fazidah A Siregar, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 2004.
2. AIDS Katagori Bencana, Kompas 29 Juli 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s