Keprihatinan Seputar Kebakaran Tambora

KEBAKARAN besar yang melalap ratusan rumah di RT 11/01, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Jumat 11 Juli 2008 lalu, meninggalkan keprihatinan amat mendalam.
Betapa tidak, akibat peristiwa itu banyak orang kehilangan tempat tinggal. Hal itu merupakan sebuah yang teramat keras pada rakyat, pada masa-masa ekonomi sulit saat ini. Apalagi jika para korban itu adalah rakyat miskin.
Keprihatinan kedua, ada saksi mata yang menyebut kebakaran tersebut bermula dari ledakan tabung gas konversi minyak tanah.
”Tadi sih kita lihat api dari warteg,” kata seorang Juru Parkir Kahar kepada okezone di lokasi kebakaran, Jakarta, Jumat (11/7/2008).
Kahar kembali menuturkan, api dari warteg tersebut diawali ledakan gas. Sedangkan tabung gas yang dimiliki oleh warteg tersebut, berasal dari bantuan pemerintah.
Tabung-tabung lain yang disimpan di rumah-rumah penduduk, juga meledak saat rumah tersebut terbakar. Inilah yang menyebabkan pemadaman menjadi sulit dilakukan.
Itu semua menunjukkan bahwa pemerintah seolah tak peduli dengan keselamatan warga. Tabung gas yang dibagikan dalam rangka program konversi minyak tanah, kualitasnya tak baik. Besinya terlalu tipis dan mudah meledak.
Warga juga tak diberi sosialisasi tentang cara pemanfaatan tabung gas tersebut secara aman. Banyak tabung yang disimpan dalam rumah dengan sedikit fentilasi.
Akibatnya, kalau terjadi kebocoran gas bisa menyebabkan kebakaran atau membunuh pemilik rumah.
Keprihatinan ketiga, pemadam kebakaran yang diturunkan ke lokasi, tak semuanya sehat. Terbukti saat digunakan ternyata ada selang yang tak berfungsi.
Hal ini secara tidak langsung juga merupakan kesalahan pemerintah. Mestinya Dinas Pemadam Kebakaran di semua kota di Indonesia mendapat dana yang cukup untuk perawatan dan penggantian.
Namun biasanya, kebijakan seperti ini tak pernah ada. Dana APBD justru digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain yang memiliki dampak politis tinggi.
Keprihatinan keempat, warga di kota-kota besar di Indonesia, selama ini tak pernah dilatih menghadapi bahaya kebakaran. Padahal, peran mereka sangat penting karena ada di saat-saat pertama musibah terjadi.
Kalau masyarakat terlatih, mereka bisa segera melakukan upaya pemadaman, saat kebakaran masih kecil. (Purwoko Adi Seno)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s