Banjir Balikpapan Karena Hutan Telah Habis

Banjir Balikpapan Karena Hutan Telah Habis

“Hujan deras yang mengguyur Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini mengakibatkan ribuan rumah diterjang banjir. Air bah yang melanda Kelurahan Damai, Kecamatan Balikpapan Selatan, membuat aktivitas warga lumpuh. Maklum, ketinggian air mencapai satu setengah meter.” (Liputan6.com – 21/06/2008).

Itulah sekilas kabar dari liputan6.com, sebuah situs berita milik SCTV. Dalam situs tersebut juga dipampangkan gambar / foto jalan yang berubah menjadi sungai dengan aliran deras.
Sungguh mengerikan, karena bisa saja arus air tersebut menyeret orang dan menimbulkan korban jiwa. Belum lagi penderitaan rakyat yang rumah-rumahnya terendam.
Namun, kini banjir memang bukan lagi berita yang menghebohkan. Mengapa ?. Ya karena peristiwa semacam itu kini menjadi sesuatu yang sangat biasa. Namun justru inilah yang mestinya mengundang keprihatinan.
Jika bencana sudah dianggap biasa, maka bisa jadi pemerintah tak lagi memasukkanya dalam prioritas penanganan.
Padahal, bencana apapun merupakan ancaman bagi warga negara. Sedangkan tugas pemerintah adalah melindungi warganya.
Hal inilah yang nampaknya sedang terjadi. Setiap tahun benjir di berbagai daerah justru makin besar. Penyebab utamanya bukan hujan, melainkan kerusakan lingkungan akibat perubahan tata guna lahan.
Kalimantan, pada masa lalu masih didominasi hutan-hutan lebat. Pada saat itu, air hujan tidak langsung sampai ke tanah,  karena terlebih dulu ditahan oleh dedaunan.
Tanah pun memiliki kesempatan untuk menyerap air hujan, sehingga hanya sebagian kecil yang mengalir ke sungai. Aliran air di permukaan tanah kawasan hutan menuju sungai-sungai itu juga masih tertahan oleh semak belukar. Hutan di wilayah-wilayah itu bukan hanya mengurangi banjir, tetapi juga berperan dalam penyediaan air tanah.
Namun kini kondisinya sudah sangat berbeda. Sejak transmigrasi digulirkan pada zaman orde baru, perubahan tata guna lahan mulai terjadi. Hutan dibabat untuk permukiman dan sawah. Selain itu kayu-kayu hutan juga diambil dan dipasarkan ke berbagai wilayah.
Orang-orang yang tinggal di kota-kota di Jawa Tengah tentu sangat mengenal kayu kalimantan. Kayu tersebut menjadi pilihan, karena lebih murah dibanding bengkirai dan jati.
Perubahan itu makin tak terkendali. Kini jika kita terbang di atas Kalimantan, di bawah memang terlihat kawasan hijau. Namun setelah sampai di darat, terlihatlah bahwa kawasan hijau tersebut ternyata hanya tumbuhan-tumbuhan tegak yang hanya setinggi kurang dari 2 meter. Jadi wajar kalau kemudian wilayah itu banjir. Kini tinggal pemerintah yang bisa memperbaiki kondisi itu. (Purwoko Adi Seno)

One thought on “Banjir Balikpapan Karena Hutan Telah Habis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s