Agustus 13, 2008

Lagi-lagi Tabung Konversi Minta Korban

TABUNG gas konversi yang diberikan pemerintah, kembali membuat bencana. Setelah di Tambora Jakarta Jumat 11 Juli 2008 lalu, peristiwa serupa terjadi di Kota Semarang. Selasa 12 Agustus 2008 lalu, kebakaran yang diduga akibat ledakan tabung gas konversi, melalap 34 rumah dan 15 lainnya rusak parah. Bangunan-bangunan di Kelurahan Tanjungmas tersebut, sebagian merupakan rumah dinas PT Kereta Api.

Menurut Suara Merdeka (13/8), tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Namun musibah tersebut mengakibatkan 48 KK yang terdiri atas sedikitnya 220 jiwa kehilangan tempat tinggal. Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Sesaat setelah peristiwa itu, belasan tangki pemadam kebakaran berdatangan ke lokasi. Selain itu, Palang Merah Indonesia Kota Semarang juga segera tiba di lokasi, untuk memberikan pertolongan pada para korban. Saat penulis tiba di lokasi sekitar 5 jam setelah kejadian, terlihat warga masih berusaha mengelola bantuan.

Peristiwa tersebut lagi-lagi mengundang keprihatinan sejumlah pihak. Warga menyayangkan cara pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap minyak tanah, dengan membagikan kompor dan tabung gas yang tidak layak pakai.

Terbukti upaya pemerintah itu, justru menyengsarakan masyarakat. Semestinya, hal ini menjadi perhatian nasional, karena jika dibiarkan akan lebih banyak korban berjatuhan.

Gang Sempit
Lokasi kebakaran di Kelurahan Tanjungmas tersebut juga merupakan permukiman padat, yang sebagian besar dihuni warga kurang mampu. Jalannya pun berupa gang sempit dan tidak bisa dimasuki oleh truk pemadam kebakaran.

Kawasan semacam itu jelas sangat rawan. Saat satu rumah dilalap si jago merah, dengan cepat api akan menjalar ke rumah-rumah lain. Apalagi Keluarahan Tanjungmas relatif dekat dengan pantai, di mana angin bertiup cukup kencang.

Namun sayangnya, Pemkot Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Sukawi Sutarip nyaris tak pernah peduli dengan kondisi tersebut. Pemkot tak pernah melakukan sosialisasi pada mereka, tentang bahaya kebakaran. Warga juga tak pernah dilatih untuk melakukan penanganan awal bahaya tersebut.

Akibatnya, ketika peristiwa semacam itu terjadi warga tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan harta benda yang mereka kumpulkan dari hasil kerja keras. Dari rentetan peristiwa tersebut, pemerintah mestinya bertanggung jawab penuh, bukan hanya dalam masa tindak darurat. tetapi juga memulihkan keadaan hingga bisa kembali seperti semula. (Purwoko Adi Seno)

Agustus 11, 2008

Mengapa Lempeng Bumi Bisa Bergerak

GEMPA dan tsunami sebenarnya merupakan peristiwa alam yang bisa terjadi kapan pun di hampir semua bagian bumi. Untuk memahami gempa, kita harus terlebih dulu memahami tentang bumi.

Dalam buku Gempa dan Tsunami terbitan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi disebutkan, bumi berbentuk bulat mirip bola namun rata pada kutub-kutubnya. Jari-jari pada katulistiwa sepanjang 6.378 km dan pada kutub 6.356 km. Lebih dari 70 persen permukaannya merupakan lautan.

Pada bagian dalam, bumi terdiri atas kerak setebal hingga 30 km, selubung atas 700 km, selubung bawah 2.900 km, inti luar 5.160 km, dan inti dalam 6.371 km. Dari semua bagian itu, yang bersifat relatif padat hanya pada bagian kerak. Dengan kata lain, kerak bumi sebenarnya mengapung pada magma.

Pada bagian atas itulah, terdapat sekitar 20 lempeng tektonik besar. Ketebalannya kira-kira 70 km dan bergerak di atas astenosfer yang lebih cair.

Sejak awal planet ini terbentuk, inti bumi selalu cair dan panas. Panas dari bagian ini, menyebabkan cairan pada bagian selubung selalu bergolak. Ini sama dengan ketika kita merebus air. Gerakan inilah yang kemudian menyebabkan lempeng-lempeng di atasnya juga ikut bergerak saling menjauh atau mendekat.

Pada tulisan terdahulu telah disebutkan tentang teori Benua Mengapung. Adalah Alfred Wegener (1880-1930), seorang ahli geofisika yang pada tahun 1915 mengemukakan sebuah teori tersebut.

Menurutnya, 300 juta tahun lalu di bumi ini hanya ada satu benua raksasa bernama Pangea. Benua itu kemudian perlahan-lahan terpisah menjadi Laurasia dan Gondwana.

Sekitar 65 juta tahun lalu, Laurasia pecah lagi menjadi Amerika Utara dan Euroasia. Amerika Selatan saat itu juga menjauh dari Afrika Selatan. Selanjutnya, antara 10 juta dan 20 juta tahun silam Amerika Utara dan Amerika Selatan menyatu, Benua India menyatu dengan Euroasia, dan Australia terpisah dari Antartika. Pergerakan lempeng-lempeng bumi itu pula yang kemudian menyebabkan gempa bumi.

Ketika bertumbukkan dengan lempeng benua, terdapat bagian dari lempeng samudra yang menyusup di bawah lempeng benua. Hal ini karena kerapatan masa lempeng samudera biasanya lebih keras. Zona tumbukan itu disebut subduksi.

Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat gesekan dan selubung bumi. Perlambatan gerak itu menyebabkan penumpukkan energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, dan qeseran.

Pada saat batas elastisitas Iempeng terlampaui, akan terjadi pelepasan energi. Ini mirip karet yang tiba-tiba melenting. Inilah yang kemudian dirasakan sebagai gempa bumi. (Purwoko Adi Seno)

Agustus 8, 2008

Kerak Bumi Menggeliat

GEMPA bumi yang mengguncang Nusa Tenggara, Kamis (7-8-2008), makin menegaskan bahwa Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Dalam kurun waktu satu atau dua dekade mendatang, dunia mungkin juga tak akan melupakan hari Minggu 26 Desember 2004. Pagi itu sekitar pukul 7:58:53, tiba-tiba bumi Aceh berguncang hebat.

Menurut data Badang Meteorologi dan Geofiksika, gempa berkekuatan 9,3 ini berpusat di 3,298° LU dan 95,779° BT, kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh, sedalam 10 kilometer. Beberapa menit setelah gempa, tiba-tiba gelombang air raksasa  menghantam dari arah laut. Tsunami, demikian orang memberikan nama pada gemlombang mematikan seperti itu.

Peristiwa serupa juga terjadi di Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Malaysia, Maladewa, Seychelles, Tanzania, Bangladesh, Afrika Selatan, Kenya, dan Madagaskar pun terkena akibatnya. Tercatat 150.000 orang tewas di Indonesia dan negara-negara itu.

Segera setelah bencana itu, ribuan relawan dari berbagai negara berdatangan untuk memberikan pertolongan. Baik dengan kekuatan bangsa sendiri maupun bantuan dari berbagai negara, upaya pemulihan pun dilakukan.

Namun ketika semua proses itu rampung, pada 27 Mei 2006 Indonesia kembali harus menangis. Pagi itu pada pukul 05:55 WIB, gempa kembali terjadi. Kali ini wilayah yang terkena adalah Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah.

BMG mencatat gempa tersebut berkekuatan 5,9 Skala Richter, sedangkan Badan Survey Geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey/USGS) mencatat 6,2.

Lokasi gempa menurut Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia terjadi di koordinat 8,007 LS dan 110,286 BT, pada kedalaman 17,1 km. Sedangkan menurut BMG, posisi episenter gempa terletak di koordinat 110,31 LS dan 8,26 BT, pada kedalaman 33 km.

USGS memberikan koordinat 7,977 LS dan 110,318 BT pada kedalaman 35 km. Hasil yang berbeda tersebut dikarenakan metode dan peralatan yang digunakan berbeda-beda. Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami.

Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya.

Meski tak sebesar Aceh dan tak menimbulkan tsunami, namun peristiwa tetap menimbulkan banyak korban.

Menurut laporan Departemen Sosial Republik Indonesia pada 1 Juni 2006 pukul 07:00 WIB, korban mencapai 6.234 orang. Rincian jumlah korban itu, Yogyakarta 165 orang, Kulon Progo 26 orang, Gunung Kidul 69 orang, Sleman 326 orang, Klaten 1.668 orang, Magelang 3 orang, Boyolali 3 orang, Purworejo 5 orang, Sukoharjo 1 orang, dan korban terbanyak di Bantul 3.968 orang. Selain mereka korban luka berat mencapai 33.231 orang dan 12.917 lainnya menderita luka ringan.

Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini rubuh.

Penulis yang tiba di Klaten pukul 12:00 menyaksikan rumah-rumah runtuh dalam wilayah yang sangat luas. Saat itu rumah-rumah sakit di Klaten dan Surakarta juga dipenuhi para korban luka.

Secara umum, gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan aktivitas gunung api, tumbukan antar lempeng tektonik (gempa tektonik), runtuhan batuan, dan menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam (jarang terjadi) seperti Dam Karibia di Zambia Afrika. Bisa pula terjadi akibat injeksi atau akstraksi cairan dari atau ke dalam bumi (jarang terjadi), seperti di beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal.

Gempa bisa juga terjadi akibat peledakan bom. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi. (Purwoko Adi Seno)

Agustus 7, 2008

Waspada, Gempa di Indonesia Timur

SEBUAH gempa menengah berkekuatan 5,6 Skala Richter, Kamis (7/8-2008) sekitar pukul 05:41 WIB mengguncang Timur Laut Sumbawa. Setelah peristiwa itu, gempa-gempa susulan terjadi pada pukul 06:07 WIB dan 10:46 WIB. (Untuk waktu Indonesia Timur ditambah 2 jam).

Dua hari Sebelumnya, yakni Tanggal 5 Agustus 2008 pukul 21:04:30 WIB juga terjadi gempa berkekuatan 5,5 skala Richter di 73 km BaratLaut Ternate-Maluku Utara.

Sehari sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi di Barat Laut Ruteng NTT, dengan kekuatan 5,5 Skala Richter. Dengan adanya peristiwa beruntun ini, bisa diduga bahwa tingkat kerawanan gempa di kawasan Indonesia Timur sedang meningkat.

Hal ini diduga dipengaruhi oleh aktivitas Indoaustralia dan Florest Thurst. Flores Thrust adalah jalur sesar di utara Sumbawa – Flores. Kerak bumi di bagian itu menyusup di bawah busur kepulaian Nusa Tenggara. Sementara kepulauan itu, duduk di atas pertemuan lempeng tersebut.

Sementara itu, gempa yang terjadi di Dompu menyebabkan 147 rumah rusak. Bangunan yang rusak meliputi rumah penduduk, sekolah, tempat ibadah, dan kantor kecamatan. (Purwoko Adi Seno – Dari Berbagai Sumber)

Agustus 1, 2008

Bumi Tak Pernah Diam

.

TUHAN Maha Besar dan Maha Adil. Itulah kalimat pertama yang saya ucapkan, ketika akhirnya tahu bahwa bumi ini ternyata tak pernah diam. Ya…. alam semesta ini pun ternyata dinamis.

 

Di Galaksi Bima Sakti misalnya, Matahari selalu bergolak dan melepaskan panasnya ke sekitarnya hingga ke planet-planet. Sedangkan planet-planet, selain benda-benda angkasa itu berputar pada porosnya sendiri, benda-benda angkasa itu juga dengan setia berputar mengelilingi matahari.

 

Dinamika alam juga terjadi di planet-planet tersebut Bumi. Perputarannya mengelilingi matahari, menyebabkan musim selalu berganti. Di negeri tropis, penduduknya sudah hapal kapan musim hujan dan kapan kemarau. Sedangkan di negara-negara non tropis, biasanya memiliki empat musim yakni panas, gugur, dingin, dan semi.

 

Pergerakan bumi juga terjadi pada permukaannya. Alfred Wegener (1880-1939), pada tahun 1915 menerbitkan sebuah buku The Origin of Continents and Oceans. Dalam buku itu dia mengemukakan, bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak di atas massa yang relatif lembek (continental drift).

 

Gravitasi dianggap sebagai penyebab utama dari semua pergerakan lempeng. Gaya gravitasi menarik lempeng yang tersubduksi karena bagian itu memang lebih tua dan lebih berat bobotnya. Kemudian karena tertarik, ada celah di tengah punggung samudera yang kemudian terisi material dari dalam mantel.

 

Akibat pergerakan itu, sekitar 300 juta tahun silam, benua-benua di muka bumi ini bersatu membentuk maha benua yang disebut Pangea. Saat itu di permukaan bumi sudah ada kehidupan, walaupun masih dalam bentuk yang masih sederhana.

Sekitar 135 juta tahun lalu, Pangea kemudian terpecah menjadi menjadi Gondwana dan Laurasia. Gondwana mengapung ke arah selatan sedangkan Laurasia mengapung ke arah utara. Australia, India, Antartika, Irian Jaya, dan bagian-bagian Pulau Sulawesi merupakan bagian dari Gondwana.

Pergerakan kerak bumi terus terjadi, hingga 65 juta tahun silam Laurasia kemudian terpecah lagi Amerika Utara dan Eurasia. Selain itu Amerika Selatan juga bergerak menjauh dari Afrika Selatan.

Saat ini India bergabung dengan Eurasia. Australia yang semula merupakan bagian dari Gondwana, kemudian juga terpisah. Autralia semula tetap bergabung dengan antartika, sampai kira-kira 55 juta tahun silam. Pemisahan itu disebabkan adanya keretakan yang terus melebar di antara kedua
benua tersebut.

Pergerakan itu pula yang kemudian membuat wajah bumi selalu berbeda dari waktu ke waktu. Selain itu pergerakan lempeng kerak bumi juga selalu menyebabkan gempa. (Purwoko Adi Seno)

Sumber :
1. Makalah Geologi tentang Museum Geologi Bandung,
Anak Ciremai, Site: http://xipemai.wordpress.com
2. Bumi yang Gelisah, Sue Bowler, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2003.

Juli 29, 2008

AIDS Sudah Masuk Katagori Bencana

ACQUIRED immune deficiency syndrome (AIDS), kini tak lagi sekadar dianggap sebagai sebuah penyakit, melainkan sudah merupakan bencana jangka panjang. Penyakit itu juga sudah masuk ke dalam laporan bencana 2008 yang dikeluarkan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

Jika dianggap sebagai bencana, maka pemerintah di negara-negara dengan angka HIV/AIDS tinggi bisa memproduksi sendiri obat ARV, tanpa harus terikat hukum hak patent. Dengan demikian kelangkaan obat ARV yang terjadi beberapa waktu lalu, tak terjadi lagi.
Selain itu diperlukan inisiatif dari penyedia layanan kesehatan untuk menerapkan tes HIV, tanpa memerlukan konseling.

Seperti ditulis Kompas Selasa 29 Juli 2008 lalu, Badan PBB dalam bidang penanganan HIV/AIDS (UNAIDS) mengemukakan, setiap hari hampir 7.000 orang terjangkit penyakit ini. Jika tidak ada penanganan, AIDS akan menulari jutaan orang lainnya. Sejak tahun 1981, lebih dari 25 juta orang meninggal akibat AIDS, sementara 33 juta lainnya hidup dengan HIV.

Kumpulan
Menurut Fazidah A Siregar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, AIDS merupakan suatu syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh.

Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal, yang dikenal dengan infeksi oportunistik. Kasus AIDS pertama kali ditemukan oleh Gottlieb di Amerika Serikat pada tahun 1981 dan virusnya ditemukan oleh Luc Montagnier pada tahun 1983.

Penyakit AIDS dewasa ini telah terjangkit dihampir setiap negara didunia (pandemi), termasuk di antaranya Indonesia.

Menurut data Ditjen PP & PL Depkes RI 8 Januari 2007, jumlah pengidap HIV selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1987 atau enam tahun setelah virus itu ditemukan di Amerika, jumlah pengidap HIV di Indonesia 4 orang dan penderita AIDS 5 orang. Pada tahun 1996, jumlah pengidap HIV menjadi 105 orang dan AIDS 42 orang. Pada tahun 2006, jumlah pengidap HIV menjadi 986 dan pewnderita AIDS 2.873 orang.

Persoalannya menjadi kian rumit, karena angka-angka tersebut tidak menunjukkan kenyataan sesungguhnya. Dalam persoalan HIV/AIDS terdapat fenomena “gunung es”, yakni jumlah sesungguhnya jauh lebih banyak dibanding yang terdata.

Hal ini karena masa inkubasi yang cukup lama, yakni sekitar 12 tahun. Masa inkubasi adalah waktu sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dia menunjukkan gejala-gejala AIDS.

Selama fase ini terdapat window period (periode jendela) selama tiga bulan. Periode tersebut adalah masa sejak orang terpapar HIV hingga virus tersebut bisa dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Pada masa itu, seseorang sudah bisa menularkan HIV. Pada masa inkubasi inilah, penularan biasanya terjadi secara tidak sengaja.

Diskriminasi
Ancaman AIDS yang sudah sedemikian besar, ternyata tak diimbangi dengan penyebaran informasi yang benar dan terus menerus. Pengetahuan yang hanya setengah-setengah tentang penyakit ini, justru hanya menimbulkan ketakutan tak yang tidak logis. Salah satu akibatnya adalah munculnya persepsi bahwa penderita adalah pembawa malapetaka.

AIDS juga sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menghinggapi pekerja seks, kaum homoseks, dan pecandu narkoba. Hal ini pula yang membuat para penderita HIV/AIDS mendapat cap buruk dari masyarakatnya.

Padahal, bisa saja AIDS tersebut diderita oleh seorang ibu yang tertular dari suaminya. Suami mungkin saja lelaki hidung belang atau pecandu narkoba. Namun istri yang ditularinya, belum tentu juga merupakan penganut seks bebas dan pecandu narkoba.

Perlakuan buruk pada orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA), justru akan menimbulkan persoalan yang lebih rumit. Diskriminasi menimbulkan ketakutan – terutama pada golongan risiko tinggi – untuk memeriksakan diri.

Padahal jika orang tersebut sudah tertular, dia sangat mungkin menularkan penyakit tersebut kepada orang lain. Demikian seterusnya, hingga makin banyak orang yang terkena.

Karena itulah salah satu peran masyarakat yang bisa dilakukan dalam upaya memerangi AIDS, justru memberikan kasih sayang pada para penderitanya. Mereka harus dilihat sebagai korban, sama dengan korban-korban bencana lainnya. (Purwoko Adi Seno)

Sumber:
1. Pengenalan dan Pencegahan AIDS, Fazidah A Siregar, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, 2004.
2. AIDS Katagori Bencana, Kompas 29 Juli 2008.

Juli 26, 2008

UFO Kunjungi Jawa Timur

ADA yang aneh di langit Jawa Timur Kamis (24/7/2008) pukul 19.30-20.00 WIB. Rizqinofa Putra M, seorang warga Sedati melihat sebuah aneh bercahaya.
Pemandangan aneh serupa juga disaksikan Christian Haris di pusat kota Surabaya. Redaktur Tabloid Nyata (Jawa Pos Group) ini melihat bola berwarna bergerak cepat.
Benda itu juga sempat mampir di atas bandara Juanda. Namun anehnya pihak bandara juga menyatakan radar mereka tak menangkap benda aneh tersebut. ”Di radar kami tidak menangkap benda aneh apapun. Saat ini saya bersama petugas dan pemimpin bandara pengawas. Kami sudah cek,” kata Humas Angkasa Pura I, Edmundos Priyono kepada detiksurabaya.com, Jumat (25/7/2008).
Entah memang tidak tertangkap radar, atau informasinya sengaja disembunyikan, namun penampakan itu tak hanya dilihat oleh satu orang. Bahkan saksi mata bukan hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga Kudus Jawa Tengah yang berjarak sekitar 210 km.
Saksi mata itu adalah WD Adjie. Dia mengaku sempat melihat benda melayang di udara dengan penuh cahaya hijau, saat dalam perjalanan Demak-Kudus, Kamis (24/7/2008) sekitar pukul 18.45 WIB.
Benda itu kata dia melintas di langit dari arah selatan menuju ke utara-timur. Sepertinya, UFO (unidentified flying object) tersebut memang sedang dalam perjalanan dari barat ke timur.

UFO di Masa Lalu
Penampakkan UFO atau beta (Benda terbang aneh) memang bukan hanya pertama kali terjadi. Dalam kisah Ramayana yang merupakan Sastra Hindu Kuno, pernah diuraikan tentang sebuah mesin terbang rumit. Cerita ini menimbulkan spekulasi bahwa mesin terbang tersebut adalah UFO.
Penulis Romawi, Iulius Obsequens, menulis bahwa pada tahun 99 SM, ”di Tarquinia menjelang matahari terbenam, objek bulat, seperti globe, perisai bundar atau bulat, terbang di langit dari barat menuju timur”.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, Usaid bin Hudhair melihat gumpalan awan yang menyerupai payung. Awan tersebut terlihat sangat indah dihiasi dengan benda berkedip-kedip seperti lampu bergantungan, terang bercahaya. Akhirnya awan tersebut terbang lebih tinggi kemudian menghilang
Pada tanggal 24 September 1235, Jendral Yoritsune dan pasukannya mengamati bola aneh bercahaya yang terbang dengan pola tak beraturan di langit malam dekat Kyoto, Jepang.
Pada tanggal 14 April 1561, langit di atas Nuremberg, Jerman, dilaporkan bahwa dipenuhi oleh banyak objek yang tampaknya sedang melakukan pertempuran di udara. Menurut cerita, bola-bola kecil dan cakram-cakram muncul dari tabung besar.
Pada Juli 1868, penyelidik BETA mendokumentasikan penampakan piring terbang di kota Copiapo, Chili.
Tanggal 25 Januari 1878, Denison Daily News menulis bahwa petani lokal bernama John Martin, melaporkan penampakan objek terbang yang besar, gelap, dan bulat menyerupai balon terbang “dengan kecepatan yang menakjubkan”. Ia membandingkan ukuran objek tersebut saat berada di atas kepalanya sebagai “piring yang besar”.
Insiden Fátima atau “Keajaiban dari Matahari”, disaksikan puluhan orang di antara ribuan orang di Fátima, Portugal 13 Oktober 1917, dipercaya oleh beberapa peneliti bahwa kejadian itu benar-benar merupakan peristiwa penampakan piring terbang.
Dalam masa Perang Dunia II, Eropa dan Jepang yang sedang berseteru juga melaporkan UFO. Bentuknya adalah bola bercahaya dan ada pula yang mengikuti pesawat terbang.
Pada tangal 25 Februari 1942, tentara Amerika Serikat mendeteksi pesawat terbang tak dikenal, yang diamati lewat pandangan mata dan pada radar di atas Los Angeles, wilayah California. Asal-usul pesawat tersebut tidak pernah diketahui. Insiden tersebut kemudian dikenal sebagai ”Pertempuran Los Angeles”, atau ”Peyerangan udara di pesisir barat”.

Beragam Teori
Adanya berbagai laporan tentang UFO, menimbulkan beragam teori. Ada yang berpendapat bahwa UFO adalah kendaraan yang digunakan oleh mahluk asing (alien). Ada pula yang mencurigai bahwa benda-benda tersebut adalah senjata rahasia militer. Namun teori-teori semacam itu, hingga kini belum ada yang memiliki kekuatan ilmiah.
Salah satu sebabnya karena ilmu yang menyelidiki mengenai BETA, Ufologi, masih cenderung dianggap sebagai pseudo science (ilmu palsu) akibat sulitnya mendapatkan bukti-bukti atau data-data ilmiah yang bisa dikembangkan menjadi teori ilmiah.
Dari hasil penelitian para ilmuwan dan kalangan militer, diketahui sekitar 90% hingga 95% laporan penampakan BETA adalah kesalahan identifikasi, fenomena alam, atau tipuan yang sengaja dibuat, sedangkan 5% sisanya tetap menjadi misteri yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan modern walaupun data yang dikumpulkan cukup lengkap.
Banyak peneliti yang mencoba menanggapi fenomena BETA dan memberi penjelasan yang masuk akal. Ilmuwan Canada menemukan hubungan antara fenomena BETA dengan gempa bumi.
Menurutnya, tekanan pada batuan sebelum gempa bumi dapat menghasilkan medan listrik kuat dan cahaya aneh. Hasil penelitian Angkatan Udara AS menyatakan bahwa fenomena penampakan BETA sebagian besar merupakan fenomena alam, termasuk penampakan meteor, gejala autokinesis, dan gangguan emosional. Lalu apakah penampakan UFO di Jatim merupakan pertanda bahwa akan ada bencana besar ? Jawaban dari pertanyaan itu, saat ini masih menjadi rahasia Tuhan. (Purwoko Adi Seno)

Sumber: www.detik.com dan Wikipedia Indonesia.

Juli 22, 2008

PMI Semarang Bantu Korban Kebakaran

PMI Kota Semarang, Selasa 22 Juli 2008  memberikan bantuan kepada korban kebakaran di Kelurahan Bugangan. Sehari sebelumnya PMI juga telah memberikan berbagai bantuan, termasuk mengevakuasi korban meninggal. (Foto: Purwoko Adi Seno)

PALANG Merah Indonesia (PMI) Cabang Kota Semarang, selama dua hari berturut-turut mulai Senin 21 Juli 2008, membantu para korban kebakaran di Kelurahan Bugangan, Semarang, Jawa Tengah.
Bantuan diserahkan Kepala Markas PMI Kota Semarang Hj Sulaningsih Bachrun SH, dan langsung diterima oleh warga setempat. Bantuan yang diserahkan berupa beras 150 kg, mi instan 10 dos, teh 10 pak, gula pasir 10 kg, kecap 6 botol, pakaian pantas pakai, selimut baru, snack, dan air minum dalam kemasan.
Sulaningsih mengatakan, saat kebakaran terjadi PMI memberikan respons yang sangat cepat. Beberapa menit setelah kejadian, satuan penanggulangan bencana sudah berada di lokasi. PMI juga mengevakuasi jenazah Munah, korban tewas dalam peristiwa itu.
Pada hari ke dua, PMI kembali datang ke lokasi untuk memberikan sejumlah bantuan kepada para korban.
Dalam kesempatan itu Sulaningsih mengimbau agar warga meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran. Apalagi saat ini Kota Semarang sedang dilanda musim kemarau.
Pada musim-musim seperti ini, udara di kawasan ini cukup kering. Selain itu pada siang hari, suhu juga sangat panas. Semua itu menyebabkan Kota Semarang menjadi daerah yang rawan kebakaran. (Purwoko Adi Seno)

Juli 21, 2008

Hari Ini 20 Rumah Terbakar di Semarang

SEBUAH kebakaran hebat, menghanguskan 20 rumah di Jalan Musi I-VI Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, Semarang, Jawa Tengah, Senin 21 Juli 2008, sekitar pukul 09.00. Seorang ditemukan tewas dalam musibah itu.
Korban bernama Monah (41), warga setempat.
Menurut keterangan warga, warga setempat, api pertama kali muncul di rumah yang didiami suami istri Hudi (45) dan Monah. Diduga api muncul karena Hudi menuang tiner sambil merokok.
Karena rumah tersebut berisi barang yang mudah terbakar, api cepat membesar. Apalagi sebagian rumah di kawasan tersebut terbuat dari kayu.
Saat si jago merah api mulai mengamuk, tubuh Hudi terbakar. Dia pun panik dan terjun ke sumur. Setelah api padam, warga segera memberikan pertolongan kepada lelaki itu dan membawanya ke RS Pantiwilasa Citarum. Saat mencari sisa-sisa barang di lokasi kebakaran, warga juga menemukan Monah yang sudah tewas dalam keadaan terpanggang. Dengan adanya peristiwa ini, kami mengimbau pembaca untuk memberikan bantuan kepada para korban. (Purwoko Adi Seno-Dari berbagai sumber)

Juli 20, 2008

Benarkah Big Bang Adalah Awal Alam Semesta

BUMI tempat kita berpijak ini, sejak awalnya memang bukan tempat yang 100 persen aman bagi mahluk hidup, termasuk manusia. Bencana demi bencana terjadi. Namun sesungguhnya semua itu merupakan bagian dari mata rantai yang terentang sejak awal pembentukan planet ini.
Proses pembentukan bumi, merupakan bagian dari pembentukan alam semesta. Seorang astronom Amerika Serikat bernama Edwin Hubble. Pada tahun 1929, dia melakukan observasi dan melihat galaksi yang jauh, bergerak dengan kecepatan tinggi selalu dan menjauhi bumi.
Ia juga melihat jarak antara Galaksi-galaksi bertambah setiap saat. Penemuan Hubble ini menunjukkan bahwa Alam Semesta kita tidaklah statis seperti yang dipercaya sejak lama, namun bergerak mengembang.
Hal ini membuatnya memperkirakan bahwa alam ini terbentuk dari sebuah ledakan dahsyat 13.700 juta tahun silam. Saat itu sebuah inti atom meledak dahsyat dan melontarkan materi ke segala penjuru dengan kecepatan kurang dari satu detik. Hingga kini, teori ini disebut dengan nama Big Bang (ledakan besar).
Setelah ledakan itu hingga jutaan tahun berikutnya, alam semesta masih terus mengembang dan mendingin. Laju pengembangannya itu, oleh Hubble diperkirakan mencapai 5%-10% per seribu juta tahun. Demikian seterusnya, namun dengan kelajuan yang semakin kecil. Namun begitu, laju itu tidak benar-benar mencapai nol.
Materi-materi yang mengisi alam semesta akibat ledakan besar ini, kemudian membentuk tata surya, bintang, planet, debu kosmis, asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya di alam semesta ini.
Di sekeliling Matahari (sebenarnya bintang), kemudian terdapat awan debu dan gas. Benda-benda itulah yang kemudian berkelompok, mendingin, dan memadat. Kemudian terbentuklah planet-planet, termasuk bumi.
Dalam waktu sekitar 10 juta tahun, Bumi sudah mencapai 63% dari ukurannya saat ini. Para ahli juga memperkirakan, 30 juta tahun silam terjadi tabrakan dengan obyek seukuran Mars. Materi bumi pun bertambah jutaan hingga miliaran ton. Sebagian materi lain juga tersebar di ruang angkasa, dan akhirnya berevolusi membentuk bulan.
Kelemahan
Teori Big Bang itu merupakan salah satu yang dibuat oleh para ahli. Walau terkenal dan digunakan secara luas, namun kemungkinan kesalahannya tetap ada. Menurut Steinhardt dan Turok, teori tersebut memiliki kekurangan yakni tidak menjelaskan awal dan akhir proses Big Bang.
Dalam sebuah jurnal ilmu pengetahuan, Steinhardt dan Turok menguraikan bahwa Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta.
”Waktu tidak mesti memiliki awal,” ujar Steinhardt dalam wawancara telepon dengan Associated Press.
Ia mengatakan bahwa teori waktu sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase, sebelum semesta ada ke fase perluasan semesta yang ada saat ini.
Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat ekspansi.
Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam galaksi, bintang dan planet. Sedangkan energi yang mempercepat ekspansi, diistilahkan sebagai “energi gelap”. Steinhardt dan Turok juga mengemukakan “energi ke tiga”. Bahkan dia membuat presentase bahwa energi biasa di alam semesta hanya 30 %.
70 % lainnya adalah energi-energi yang unik, termasuk energi gelap. Percepatan ekspansi alam semesta didorong oleh “energi gelap” yang menyatukan sejumlah zat dan energi.
“Energi ini, sekali mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta,” ujar Steinhardt.
Menurutnya, Big Bang juga terjadi akibat energi gelap ini. Dengan kata lain, menurut kedua ahli itu, alam semesta sebenarnya sudah ada sebelum dentuman besar terjadi.
Dengan adanya dua teori tersebut, berarti tidak ada satu teori pun yang dianggap paling benar dalam menjelaskan pembentukan alam semesta. Namun bagi orang-orang beragama, mereka akan sangat meyakini bahwa ada semua itu dikendalikan oleh Tuhan dan semua itu masih menjadi rahasia-Nya. (Purwoko Adi Seno)

Referensi : Sinar Harapan (29 April 2002), Wikipedia Indonesia, dan PPARC News Release M.M Woolfson. The Origin and Evolution of the Solar System