Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merencanakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik setiap tiga bulan sekali. Meski menurut versi pemerintah ini logis untuk menyesuaikan harga minyak dunia, namun bagi rakyat kecil ini pertanda bencana ekonomi kian dekat.
Bisa dipastikan, setiap kali harga BBM dinaikkan, jumlah orang miskin secara faktual akan bertambah. Kondisi seperti ini tidak akan bisa ditanggulangi dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang hanya Rp 300.000 untuk tiga bulan.
Uang Rp 300.000 itu memang terlalu kecil untuk menutup biaya hidup selama itu. Selain itu, setelah tiga bulan berlalu rakyat kecil mungkin memang bakal dapat BLT lagi, seiring dengan kenaikan harga BBM. Namun lagi-lagi uang itu tidak cukup, walau digunakan untuk kehidupan paling sederhana sekalipun.
Dengan kondisi demikian, rakyat kecil bakal makin melarat. Sementara rakyat kelas menengah, kemungkinan akan masuk ke kelas masyarakat miskin.
Hal itu bisa terjadi karena jika BBM naik terus, perusahaan yang bakal gulung tikar bertambah. Pengangguran meningkat dan daya beli bukan sekadar menurun, tetapi bakal terjun bebas.
Itu semua hanya karena di negeri ini, semuanya sangat bergantung pada BBM. Sedangkan harga BBM, ternyata tidak dikendalikan negara-negara penghasil minyak, melainkan oleh negara kapitalis terbesar bernama Amerika Serikat.
Bukan tidak mungkin, melejitnya harga BBM itu merupakan sebuah serangan pada perekonomian dunia, setelah perekonomian Amerika Serikat morat-marit akibat krisis dan kredit perumahan yang macet.
Dengan kondisi seperti ini, tidakkan pemerintah berupaya agar rakyat di negeri ini mengurangi ketergantungan pada BBM ? (Purwoko Adi Seno)